Ghurur an-Nas (Penipuan Manusia)

PENDAHULUAN Bismillahirrohmanirrohim Segala puji bagi Allah SWT Dzat Yang Merajai alam semesta. Shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita, Sayyidina Muhammad SAW. Sebaik-baik utusan yang selalu memberikan kepada kita contoh yang baik. Kami mengikuti perkataan dan perbuatannya yang apabila kita berpegang teguh dengannya kita dapat mengikutinya sampai pada sebaik-baik ketentraman hati.  Semoga Engkau menjadikan kami […]

Amalan-amalan Utama pada hari Jumat dan Kisah Masuk Islamnya Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq

Diceritakan oleh Abi Nashr al Washiti, ia berkata: ia pernah mendengar Abu Raja’ al ‘Atharidi bercerita tentang Abu Bakar as Shidiq. Bahwa ada orang Arab yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: saya telah mendengar tentang anda bahwa anda berkata “Dari Jum’at ke Jum’at dan dari shalat ke shalat adalah kafarat bagi mereka yang menghindari dosa-dosa besar diantara Jum’at ke Jum’at dan shalat ke shalat. Kemudian Rasulullah menjawab: ya benar kemudian orang itu menambahkan amalan diantara waktu-waktu itu.

Kemudian Rasulullah bersabda “mandi pada hari Jum’at ialah kafarat, berjalan untuk shalat Jum’at ialah kafarat, dan setiap langkah kakinya seperti halnya amalan 20 tahun. Jika ia telah selesai melaksanakan shalat Jum’at Allah akan memberinya pahala dengan pahala amal selama dua ratus tahun.

Abu Bakar as-Shidiq telah meriwayatkan hadits ini dan menyebutkan bahwa ada seorang pedagang pada jaman jahiliyah. Sebab masuk islamnya ialah ketika di syam, ia melihat rembulan dan matahari bersatu padu di dalam kamarnya dan ia pun mengambilnya dengan kedua tangannya kemudian menghimpunnya di atas dadanya. Lalu ia menutupinya dengan sorbannya.

Ketika ia teringat, ia pergi ke seorang pendeta nasrani untuk menanyakan tentang mimpinya, kemudian ia mendatanginya dan menceritakana tentang mimpinya untuk di takwilkan oleh pendeta nasrani tersebut. Pendeta nasrani tersebut bertanya “dari mana asal anda?” pedagang itu menjawab “saya berasal dari Mekkah”, pendeta itu melanjutkan pertanyaannya “anda dari kabilah mana?”, pedagang itu menjawab “Saya dari kabilah Tym, lalu pendeta itu bertanya lagi “apa maksud anda datang kemari?”.

Pedagang segera itu menceritakan mimpinya. Kemudian pendeta nasrani itu menjawab menerangkan ta’bir mimpinya “akan datang seorang pemuda dari bani hashim di zaman anda, dia disebut Muhammad al Amin, ia berasal dari bani Hasyim dan ia menjadi Nabi akhir zaman, kalau dia tidak diciptakan, niscaya Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Dia tidak menciptakan Adam as. Dia tidak menciptakan Nabi-nabi dan Rasul. Ia adalah Tuannya para nabi dan rasul dan penutup para nabi dan rasul. Sedangkan anda akan memeluk agama islam dan menjadi perdana menterinya dan menjadi khalifah setelahnya, inilah ta’bir mimpi anda, saya telah menemukan sifat-sifat yang dimiliki pemuda ini di Taurat, Injil dan Zabur. Sesungguhnya saya telah masuk islam tapi saya bersembunyi dari orang-orang nasrani karena takut ketahuan mereka.

Ketika Abu Bakar mendengar kisah ini dari pendeta nasrani tadi, hatinya tergetar dan rindu ingin berjumpa dengannya. Kemudian ia segera menuju Mekah untuk mencarinya, ia sangat mencintainya dan sudah tidak sabar berjumpa dengannya.

Selang beberapa waktu, Abu Bakar telah berjumpa dengan Rasulullah, kemudian beliau bersabda “Wahai Abu Bakar, pada suatu hari dan pada hari-hari anda datang kepadaku dan duduk bersamaku, kenapa anda belum memeluk islam. Abu Bakar berkata “Kalau anda adalah seorang nabi, maka anda semestinya memiliki mukjizaat, kemudian Nabi menjawab “apakah tidak cukup mukjizat yang anda lihat di Syam dan seorang pendeta nasrani telah menta’birkan mimpi anda dan menceritakan kepadamu tentang islamnya. Ketika Abu Bakar mendengar hal itu, ia langsung membaca Syahadat “asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa annaka rasulullah, masuk islamlah Abu Bakar dan agamanya baik.

Kisah lain diceritakan bahwa ada dua orang pemuda majusi kakak beradik pada masa Malik bin Dinar yang menjadi penyembah api. Salah satu pemuda itu berumur 73 tahun dan yang satunya lagi berumur 35 tahun. Saudara mudanya bertanya kepada yang tua “kemarilah, sampai menarik api tersebut, apakah anda menghormati api atau membakarnya  sebagaimana api itu membakar orang yang menyembahnya, atau anda menghormatinya berarti kita menyembahnya atau sebaliknya.

Saudara yang tua menjawab “ya saya akan menyalakan api.”  Kemudian saudara muda berkata kepada yang tua, “Apakah anda dahulu yang meletakkan tangannya diatas api atau saya dahulu?” kemudian saudara yang tua menjawab “Tidak, kamu dulu saja,” maka saudara yang muda pun meletakkan tangannya di atas api dan api itu membakar jari-jemarinya dan merintih “aaah” dan mengangkat tangannya dari api itu dan berkata “Saya telah menyembahmua selama 35 tahun tapi anda menyakitiku.

Saudara yang muda mengajak saudara yang tua sampai menyembahnya dan menjadi tuhan satu-satunya yang disembah “jikalau Tuhan menyakiti kita dan meninggalkan perintahnya selama 500 tahun misalnya, maka dia bisa mengampuni dan memaafkan dosa-dosa kita hanya dengan ketaatan sesaat dan permohonan ampun sekali. Maka saudara yang tua menjawab dan mengajaknya kepada seseorang yang dapat menunjukkan kita kepada jalan yang lurus dan mengajarkan kita kepada agama islam. Kemudian disepakatilah pendapat mereka berdua untuk pergi kepada Malik bin Dinar untuk mengetahui lebih dalam tentang agama islam, kemudian mereka segera mendatanginya dan bertemu dengannya di gelapnya kota Basra sedang duduk bersama orang banyak dan mengagungkan mereka dan banyak hal yang mesti dilakukan, ketika mata mereka memandang dan mendapati Malik bin Dinar, Saudara yang tua berkata kepada saudara yang muda, “saya tidak jadi memeluk agama islam, menyembah api sudah melewati lebih jauh dari umurku  walaupun saya pasrah dan kembali masuk islam dan agama Muhammad keluargaku akan menelanjangiku dan seluruh tubuhku dan api lebih saya sukai dari pada perbuatan menelanjangi mereka kapada saya.

Kemudian saudara yang muda berkata “jangan anda lakukan itu, perbuatan menelanjangi mereka hanya sesaat sedang api tidak akan hilang, namun, saudara yang tua tidak mendengarkan kata-kata saudaranya yang muda dan saudara yang muda berkata “Anda dan keinginan anda. Anda adalah orang yang paling celaka dan yang celaka wahai pahlawan dunia dan akhirat, saudara yang lebih tua tetap berserikeras dan kembali untuk tidak memeluk Islam, tapi kembali menyembah api. Kemudian saudara yang muda bersama anak dan istrinya masuk diantara orang-orang di dalam majlis dan ikut duduk bersama mereka sampai Malik bin Dinar selesai berbicara dan nasehatnya.

Kemudian ada seorang laki-laki berdiri dan menceritakan sebuah kisah dan bertanya kepada saudara yang muda “apakah dia akan berpaling dari agama Islam dan ahlu baitnya, maka berpaling dari mereka dan mereka memeluk agama Islam semua. Maka seluruh manusia menangis bahagia melihat kejadian itu dan ketika laki-laki itu hendak pulang Malik bin Dinar menyuruhnya untuk duduk kembali sampai seluruh manusia mengumpulkan buat kamu harta benda, lalu ia menjawab “saya tidak akan menjual agama dengan dunia kemudian berubah dan ia masuk ke dalam taman yang didalamnya terdapat sebuah rumah mewah dan ia pun memasukinya.

Ketika hari telah menjelang pagi, istrinya menyuruhnya untuk pergi ke pasar guna mencari pekerjaan dan berbelanja dengan gajimu untuk kita makan. Maka ia bergegas pergi ke pasar, namun ia belum mendapatkan pekerjaan. Dalam diam ia termenung dan berkata pada dirinya sehingga ia menunaikan ibadah kepada Allah SWT, maka ia telat masuk ke masjid untuk berjamaah dengan Rasulullah SAW hingga ia malam ia tetap disana.

Lalu dia pulang dengan tangan kosong. Istrinya bertanya “apakah engkau belum mendapatkan sesuatu apapun hari ini. Wahai istriku, hari ini saya telah bekerja kepada Malik, namun ia belum memberiku upah, siapa tahu besok ia akan memberikannya. Akhirnya malam itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya ia pergi lagi ke pasar dan belum juga mendapatkan pekerjaan, kemudian ia pergi ke masjid dan shalat hingga larut malam. Kemudian ia pulang dan istrinya bertanya lagi “apakah hari ini juga belum mendapatkan pekerjaan, laki-laki itu menjawab “saya telah bekerja pada Malik yang saya kerja kemarin, saya berharap hari ini tetapi ia belum memberikannya juga sedangkan hari ini adalah kamis, saya berharap besok ia akan memberikannya. Maka hari itu pun mereka bermalam dalam keadaan lapar lagi. Ketika pagi hari telah menjelang, sedangkan hari itu adalah hari jumat, lalu ia pergi ke pasar namun belum juga mendapatkan pekerjaan, lalu ia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan berdoa seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Tuhanku, Engkau telah memuliakanku dengan memeluk agama Islam, memakaikanku mahkota Islam dan menunjukkanku dengan mahkota petunjuk-Mu, maka dengan kemuliaan agama yang telah Engkau berikan rizki, dengan kemuliaan hari ini yang penuh berkah dan keluhuran yang telah Engkau takdirkan untuknya, yaitu hari Jumat, saya memohon kepadamu untuk mengangkat kesibukan hati keluarga terhadap nafkah dan berilah saya rizki yang tidak disangka-sangka. Demi Allah, sesungguhnya saya malu terhadap keluargaku dan saya khawatir kepada mereka dari berubahnya keimanan mereka yang masih seumur jagung.

Setelah selesai berdoa, lalu ia bangun dan menyibukkan diri dengan menunaikan shalat dua rakaat. Ketika matahari telah meninggi, laki-laki itu pergi hendak menunaikan shalat jumat namun kelaparan anak-anaknya telah memburuk, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan mengetuk pintu rumah mereka, lalu istrinya membukakan pintu dan ia sempat terperanjat melihat laki-laki yang gagah dan ditangannya ada sebuah sapu tangan emas yang di dalamnya terdapat kotak dari emas dan laki-laki itu berkata “ambillah kotak ini dan katakan pada suami anda bahwa ini adalah upah pekerjaannya selama dua hari dan tambahkan pekerjaannya maka kami akan menambahkan upahnya dengan upah yang khusus pada hari ini, yakni hari jumat, sesungguhnya pekerjaan kecil pada hari ini, baginya sangatlah besar. Maka istrinya mengambil kotak itu dan ternyata di dalamnya terdapat uang seribu dinar dan ia mengambil satu dinar untuk berbelanja. Ketika itu  penjualnya adalah orang nasrani, kemudian ia menimbangnya dan tiba-tiba beratnya bertambah menjadi dua kali lipat. Ia melihat dari ukirannya, ia mengetahui bahwa dinar itu adalah hadiah dari akhirat, lalu ia menanyakan hal itu kepada perempuan itu, dari mana anda mendapatkan dinar ini?

Amalan yang Mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka

para pembaca yang budiman, kali ini mari kita lanjutkan i’tibar kita melalui kisah-kisah orang-orang shalih tedahulu, semoga kita dapat memetik pelajaran yang berharga dari kisah itu agar dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaaan kita. lanjut…….

Dalam hadits yang keempat yang diriwayatkan oleh Abi Dzar al-Ghifari r.a. bahwa ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Ya Rasulullah, ajarilah saya amalan yang dapat mendekatkan diri ke Surga dan menjauhkan saya dari neraka,” kemudian Nabi bersabda “jikalau engkau telah berbuat kejelakan, ikutilah kejelekan itu dengan kebaikan.” Sahabat Abu Dzar bertanya lagi “perbuatan apakah yang termasuk kebaikan?” lalu Nabi menjawab “perbuatan baik itu ialah mengucapkan laa ilaaha ill Allah, lalu shabat Abu Dzar menguatkan hatinya “betul ya Rasul, itu adalah sebagus-bagusnya kebaikan.”

Terkait dengan hadits diatas, ada sebuah kisah yang menceritakan seorang pemuda yang sedang berdiri di Arafah dan ditangannya ada 7 buah batu. Orang-orang telah menyaksikan saya di hadapan Allah SWT bahwa saya telah besyahadat اشهد ان لااله الا الله وان محمد رسول الله, kemudian ia tidur dan bermimpi melihat selah-olah adalah nyata seperti kiamat telah datang, dia telah dihisab dan dia termasuk ahli neraka. Kemudian para malaikat membawanya dan mengantar ke pintu neraka, ketika itu sudah ada sebuah batu di depan pintu neraka yang menemui dirinya.

Kemudian para malaikat Adzab berkumpul untuk membawa pemuda itu ke pintu neraka, namun di tiap-tiap pintu neraka telah ada batu-batu yang lain dari ketujuh batu tadi, dan para malaikat tidak mampu lagi membawanya. Lalu para malaikat membawanya ke bawah ‘Arsy dan bermunajat kepada Allah, “Ya robb, Engkau lebih mengetahui perkara hamba-Mu dan saya tidak menemukan jalan untuk membawanya ke neraka,” kemudian Allah berfirman, “Aku telah memberkahi hamba-Ku dan batu-batu itu, bagaimana Aku menghilangkan hakmu sedangkan Aku menyaksikan Syahadatmu,” selanjutnya Allah memerintahkan para malaikat untuk memasukkannya ke dalam surga, namun ketika di pintu surga, pintu surga masih terkunci, kemudian datanglah kesaksiannya (syahadatnya) lalu terbukalah pintu surga dan masuklah pemuda itu.

Dalam kisah lain diceritakan oleh Imam az-Zahid Sayyid al Mufti dari ayahnya Al-Mufti, ia berkata bahwa Nabi Musa a.s. telah bermunajat kepada Allah SWT “Ya Robb, Engkau telah menciptakan makhluk, memeliharanya dengan nikmat-Mu, memberinya rizki, dan pada hari kiamat Engkau memasukkannya ke dalam neraka-Mu. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Musa a.s. untuk memelihara sebuah ladang, menanaminya dan menyiraminya, kemudian Musa a.s. menjalankannya sampai panen, lalu Allah SWT bertanya kepada Musa a.s. “Apa yang telah kau perbuat terhadap ladangmu?” Musa a.s. menjawab “ saya telah menyimpannya,.”

Kemudian Allah SWT bertanya kepada Musa a.s. “ wahai musa apa yang kau sisakan dari ladangmu yang telah kau panen?” Musa a.s. menjawab “Ya Robb, saya tidak meninggalkan apapun kecuali harta yang baik, Allah pun berfirman “Aku memasukkan ke neraka orang-orang yang tidak ada kebaikan bagi dirinya,” kemudian Musa a.s bertanya “siapakah dia ya Robb?” Allah SWT menjawab “ia adalah orang yang mencegah dirinya/enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illa Allah Muhammad rasulullah.”

Keutamaan Ilmu

Dikisahkan oleh Ibrahim dari ‘Ilqimah dari Abdulloh bin Mas’ud r.a. ia berkata: bahwa rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa belajar satu bab dari ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, maka Allah akan menganugerahkan baginya kebaikan tujuh ribu tahun yang siang harinya untuk berpuasa dan malam harinya untuk qiyamul lail yang pasti diterima dan tertolak.

Diriwayatkan pula dari Ibrahim bin ‘Ilqimah dair Abdulloh r.a. ia berkata: bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Membaca al-Qur’an merupakan amalan-amalan orang yang merasa cukup, shalat merupakan amalan-amalan orang yang lemah, puasa merpakan amalan-amalan orang faqir, membaca tasbih merupakan amalan-amalan wanita, shodaqoh merupakan amalan-amalan orang yang dermawan, tafakkur merupakan amalan-amalan orang dhu’afa, apakah saya tidak menunjukkan kepadamu amal-amal yang utama? Kemudian Rasululloh ditanya: apakah amalan-amalan yang utama itu wahai Rasulullah? Kemudian Rasulullah menjawab: “amalan-amalan yang utama itu ialah mencari ilmu, sesungguhnya ilmu itu ialah nuur al mu’min (cahayanya orang mukmin) di dunia dan di akhirat”. Lalu Rasulullah bersabda: “saya adalah kotanya ilmu dan Ali r.a. adalah kuncinya”.

Ketika orang-orang khawarij mendengar hadits ini, mereka menghasud sahabat Ali r.a. maka sepuluh orang dari pembesar mereka berkumpul dan berkata: sesungguhnya kami akan menanyakan kepada Ali r.a. satu masalah dan kita lihat bagaiaman ia menjawab, jikalau ia menjawab satu pertanyaan dari kita satu persatu dengan jawaban yang berbeda, maka kita tahu bahwa ia adalah seorang yang alim sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi.


Maka datanglah salah satu dari mereka dan berkata: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali r.a. menjawab: “ilmu lebih utama dari pada harta”, kemudian ia bertanya lagi, dengan dasar apa? Ali Menjawab: Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkana harta adalah warisan Qarun, Syadad, Fir’aun dan lainnya. Kemudian ia pergi dan datang yang lainnya lagi lalu ia bertanya seperti pertanyaan yang diajukan oleh orang pertama dari kaum khawarij, dan Ali r.a. menjawab: ilmu lebih utama dari pada harta”. Lalu Ali ditanya lagi, “dengan dasar apa?”, Ali menjawab: “Ilmu akan menjagamu sedangkan harta kau yang menjaganya”. Lalu ia pergi.

Setelah dua orang mendapatkan jawaban yang berbeda, datanglah orang ketiga bertanya dan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa?” Ali menjawab: “bagi  si pemilik harta memiliki musuh yang banyak, sedangkan si pemilik ilmu memiliki teman yang banyak”. Kemudian ia pun pergi dengan jawaban yang berbeda lagi.

Datanglah orang yang keempat bertanya pula dengan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”,lalu ia bertanya lagi “dengan dasar apa wahai Ali?” Ali r.a. menjawab “jika kau membelanjakan harta maka ia akan berkurang, sedangkan jikau kau membelanjakan ilmu, maka ia akan bertambah”. Lalu orang yang keempat inipun pergi dengan membawa jawaban yang berbeda.

Orang yang kelima datang pula dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”. Kemudian Ali ditanya lagi, “Dengan dasar apa bahwa Ilmu lebih utama dari pada harta?” lalu Ali menjawab: “Si pemilik harta memiliki nama panggilan Bakhil dan medit, sedangkan Si pemilik ilmu memiliki nama panggilan kemuliaah dan keluhuran”. Lalu orang yagn kelima ini pun pergi membawa jawaban yang berbeda pula.

Kemudian datanglah orang yang keenam dan bertanya: “Wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali r.a. menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dan orang itu melanjutkan pertanyaannya lagi, “dengan dasar apa?”, Ali r.a. menjawab dengan tegas, “harta, kau akan menjaganya dari pencuri, sedangkan ilmu, kau tidak menjaganya dari pencuri”. Orang yang keenam ini pun pergi pula dengan jawaban berbeda.

Lalu datanglah orang yang ketujuh dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa? Ali menjawab: “harta akan habis ditelan lamanya waktu dan berjalannya waktu sedangkan ilmu tidak akan lenyap dan habis”. Lalu orang yang ketujuh ini pun pergi.

Datang orang yang ke delapan dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa? Ali menjawab: “ilmu akan membuatmu dihisab di hari kiamat kelak dan ilmu akan memberi syafa’at kepada si Pemiliknya”.

Datang lagi orang yang kesembilan dan ia bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali menjawab: “ilmu lebih utama dari pada harta”, lalu Ali r.a. ditanya lagi: “dengan dasar apa?”,  Ali r.a. menjawab lagi: “Harta akan membuat hatimu keras sedangkan ilmu akan menyinari hatimu”. Lalu ia juga pergi.

Orang yang kesepuluh turut andil bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” dan sahabat Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, ia bertanya lagi, “Dengan dasar apa?” lalu Ali r.a. menjawab: “bagi si pemilik ilmu ia akan disebut orang yang ahli ibadah, sedangkan si pemilik harta akan disebut Tuhan disebabkan karena hartanya.

Kemudian setelah orang yang kesepuluh, yakni orang yang terakhir dari para pembesar khawarij, sahabat Ali berkata lagi: jikalau mereka bertanya kepadaku tentang masalah ini, pasti saya akan menjawab denga n jawaban yang berbeda selama saya masih hidup. Kemudian sepuluh para pembesar khawarij itu pasrah dan menyerah semuanya.

Keutamaan Umur Panjang

Dikisahkah oleh Sahabat Anas bin Malik r.a. ia berkata: Rasulullah telah bersabda: “sesungguhnya Allah melihat wajah orang tua di waktu pagi dan sore hari dan berfirman kepadanya, “Wahai hambaku, gigimu telah tua, kulitmu telah keriput, tulang-belulangmu telah lemah, ajalmu telah dekat, dan kedua kaki telah sempoyongan untuk berjalan, malulah kepadaku sesungguhnya Aku malu karena tuamu untuk mengadzabmu di neraka.

Dikisahkan bahwa sahabat Ali r.a. sedang terburu-buru pergi ke masjid untuk berjamaah subuh. Di tengah jalan ia menemui seorang yang tua sedang berjalan dengan tenangnya dan ia pantas untuk dihormati dalam perjalanannya dan Ali tidak menyalipnya karena menghormatinya dan memuliakannya karena ketuaannya sampai menjelang habisnya waktu subuh dan matahari hampir terbit. Ketika tiba di pintu masjid, ia tidak segera masuk masjid, ternyata Ali r.a. baru mengetahui bahwa ia orang nasrani. Maka Ali r.a. segera masuk masjid dan mendapati Rasulullah sedang ruku karena memanjangkan rukunya sama halnya ruku’ dua kali, sehingga Ali dapat menyusulnya. Ketika telah selesai shalat, Ali bertanya kepada beliau, “Ya Rasulullah, kenapa Anda memanjangkan ruku anda di shalat subuh ini, sedangkan saya belum pernah melakukan hal ini sebelumnya. Kemudian Rasulullah bersabda “ketika saya sedang ruku dan membaca subhana robbiya al-‘Adzimi seperti apa yang telah saya lakukan dan saya ingin mengangkat kepala saya, namun tiba-tiba malaikat Jibril datang dan menaruh sayapnya di atas punggungku dan membiarkanku berlama-lama dalam ruku dan ketika ia telah mengangkat sayapnya, kemudian saya mengangkat kepala saya dan mereka bertanya kenapa saya berbuat demikian.

Kemudian malaikat jibril menceritakannya, Wahai Muhammad, sesungguhnya Ali sedang terburu-buru untuk berjamaah namun ia menemui orang tua nasrani di jalan dan Ali tidak mengetahui bahwa ia orang nasrani dan ia memuliakannya karena tuanya. Ia tetap tidak mendahuluinya dan menjaga haknya sebagai orang tua, lalu Allah memerintahkanku untuk memanjangkan ruku’ anda sampai Ali dapat menyusul shalat dan berjamaah. Ini tidak mengherankan, tetapi yang lebih mengherankan lagi bahwa Allah memerintahkan malaikat Mikail menutupi matahari dengan sayapnya agar matahari tidak segera terbit karena kepentingan Ali. Derajat ini ialah karena menghormati orang tua walaupun ia seorang nasrani.

Kisah lain diceritakan ketika ajal telah mendekati Gurunya Abu Manshur al-Maturidi, ketika itu ada seorang anak kecil yang bermur sama. Gurunya telah sakit dan menyuruh Abu Manshur untuk mencarikan seorang hamba yang sama seperti dia yang berumur delapan puluh tahun, untuk dibeli dan dibebaskan, kemudian Abu Manshur mencarinya namun ia tidak mendapatkannya. Orang-orang berkata bagaimana kami mendapatkannya seorang hamba laki-laki berumur delapan puluh tahun yang ada hanya kulitnya telah keriput dan tidak akan dibebaskan.

Lalu Abu Manshur kembali kepada gurunya dan mengabarkannya tentang informasi dari orang-orang. Ketika gurunya mengetahuai perkataan ini, kemudian ia meletakkan kepalanya di atas tanah dan bermunajat kepada Tuhannya dan memohon “Ya Tuhanku, sesungguhnya makhluk itu tidak memuliakannya jikalau telah sampai umurnya pada delapan puluh tahun dan yang tersisa hanyalah kulit yang telah keriput tapi membebaskannya sedangkan umur saya telah mencapai delapan puluh tahun bagaimana Engkau tidak membebaskanku dari api neraka sedangkan Engkau Dzat Yang Maha Mulia, Maha Pengasih, Maha Tinggi,  Maha Pengampun dan Maha Terima Kasih, maka Allah membebaskannya karena bagusnya munajatnya.

PUTUS ASA

Dalam kisah yang kedua, diceritakan oleh Ibn Mas’ud r.a. ia berkata: Rasulullah pernah bersabda “orang berdosa yang berharap rahmat Allah itu lebih dekat kepada Allah dari pada seorang hamba yang putus asa.”

Ia bercerita lagi sebagaimana dikisahkan dari Zaid bin Aslam dari Umar bahwa ada seorang pemuda dari umat terdahulu yang tekun dalam beribadah lalu ia terhimpit musibah dan ia membuat manusia berputus asa dari rahmat Allah kemudian dia mati dan ia bertanya: apakah bagianku dari-Mu? Allah berfirman: bagianmu adalah neraka. Lalu hamba itu protes, lalu dimana ibadahku, ketekenunanku. Lalu Allah menjawab: sesungguhnya kamu telah berputus asa dari rahmatku di dunia maka Aku memutuskanmu sekarang dari rahmatku.

Dikisahkan oleh Abi Hurairah r.a. dari Nabi SAW bahwa ada seorang pemuda yang tidak pernah berbuat kebaikan terkecuali dia mengesakan Allah SWT ketika kematian menemuinya dia berpesan kepada keluarganya “jika saya mati nanti bakarlah mayatku sampai hancur menjadi pasir dan taburkan debunya ke laut pada saat itu juga,” maka keluarganya menjalankan wasiat itu sedangkan ia senantiasa ada pada kekuasaan Allah SWT. Kemudian Allah berfirman: “apa yang menyebabkanmu seperti ini sehingga engkau berbuat demikian?” kemudian ia menjawab “takut kepadamu,” maka Allah SWT mengampuninya dengan rasa ketakutan itu sedangkan ia tidak pernah berbuat kebaikan hanya mengesakan Allah SWT.

Berdasarkan hadits di atas ada sebuah kisah bahwa ada seorang pemuda mati di bawah tanggung jawab Nabi Musa sedangkan seluruh manusia membencinya untuk memandikan dan menguburkannya karena kefasikannya. Kemudian mereka menyeretnya dan melemparkannya ke tempat sampah. Melihat peristiwa tersebut, Allah memberikan wahyu kepada Nabi Musa dan berfirman: “wahai Musa, ada seorang pemuda mati di tempat sampah sedangkan ia termasuk wali dari wali-waliku dan mereka belum memandikan, belum mengkafani dan belum menguburkannya. Maka pergilah, mandikan, kafani dan shalatilah serta kuburkanlah. Kemudian Nabi Musa mendatangi tempat tersebut dan menanyakan perihal mayat tersebut kepada mereka dan mereka berkata kepadanya bahwa pemuda itu mati sedangkan ia memiliki sifat ini, sifat ini. Ia adalah orang yang terang-terang fasik, kemudian Nabi Musa bertanya “Dimana ia sekarang?” sesungguhnya Allah telah mewahyukan kepadaku karena mayit ini. Mereka menunjukkan tempatnya dan mereka pergi. Ketika Nabi Musa melihat dia dalam kondisi mengenaskan di tempat sampah dan kabar dari orang-orang tentang kejelekan perbuatannya kemudian ia bermunajat kepada Allah SWT dan berdoa Ya Tuhanku, Engkau telah memerintahkanku untuk menguburkan, menyolatinya dan kaumnya menyaksikan bahwa ia itu jahat dan Anda Dzat yang lebih Mengetahui dari mereka tentang kebaikan dan kejelekan maka Allah berfirman: “wahai musa, kaumnya benar dengan apa yang mereka ceritakan tentang kejelekann perbuatannya namun ia mendapat syafaatku karena tiga hal, kalau ia memohon dengan syafaatku tentang seluruh orang-orang yang berdosa dari makhlukku niscaya aku berikan, maka bagaimana Aku tidak mengasihaninya sedangkan ia telah memohon kepadaku dan Aku adalah Dzat Yang Maha Pengasih dari para pengasih. Nabi Musa bertanya: apakah ketiga hal tersebut Ya Tuhanku? Kemudian Allah menjawab: “Tatkal kematian mendekatinya ia berdoa kepadaku: Ya Tuhanku, Engkau lebih Mengetahui dari pada hamba, sesungguhnya saya adalah orang yang bergelimang maksiat sedangkan di hati saya sangat membencinya tetapi terkumpul tiga perkara sampai saya berbuat maksiat beseta kebencian maksiat di hati saya. Awalnya adalah hawa nafsu, teman yang jelek dan iblis. Ketiganya menjermuskun saya ke dalam maksiat. Maka sesungguhnya Engkau mengetahui apa yang saya katakana dan ampunilah saya. Kedua, Ya Tuhanku, Engkau mengetahui bahwa saya orang yang bermaksiat dan tempatku ialah bersama orang-orang yang fasik akan tetapi saya lebih menyukai berteman dengan orang-orang shalih dan zuhud mereka dan bergaul dengan mereka lebih saya sukai dari pada bersama orang-orang yang fasik. Ketiga, Ya Tuhanku Engkau mengetahui bahwa orang-orang shalih adalah orang-orang yang lebih saya sukai dari pada orang-orang fasik sampai jika saya menjumpai dua orang pemuda yang shalih dan jahat, pasti saya mendahulukan memenuhi hajatnya orang shalih dari pada orang jahat tadi. Dalam riwayat Wahab bin Munibbah ia berkata, pemuda itu berkata “Ya Tuhanku jikalau Engkau memaafkanku dan mengampuni dosaa-dosa saya maka para Wali dan nabimu merasa gembira dan syetan, musuhku dan musuh-Mu bersedih, namun apabila Engkau mengadzabku karena dosa-dosaku maka syetan dan komplotannya merasa gembira dan para Nabi dan Wali-Mu bersedih. Sesungguhnya saya mengetahui bahwa kesenangan para Wali dan Nabi-Mu lebih saya sukai dari pada kesenangan Syetan dan sekawanannya, maka ampunilah saya. Ya Allah Sesungguhnya Engkau lebih mengetahui dari saya, apa yang saya katakan, maka kasihanilah dan maafkanlah saya.

Kemudian Allah berfirman “Aku telah mengasihainya, mengampuninya dan memaafkannya, sesungguhnya Aku Dzat Yang maha Pengasih dan Penyayang khusus bagi orang-orang yang dalam hatinya mengakui segala dosanya kepada-Ku dan Aku telah mengasihaninya, mengampuninya dan memaafkannya, Wahai Musa kerjakan apa yang telah Aku perintahkan sesungguhnya Aku telah mengampuni bagi orang-orang yang mau menyolati jenazahnya dan datang untuk menguburkannya karena menghormatinya.

KEUTAMAAN KASIH SAYANG SESAMA MAKHLUK

Dikisahkan oleh Abdullah bin Umar r.a., ia berkata: Rasulullah SAW pernah bersabda: orang-orang yang penuh kasih sayang akan disayang oleh Sang Maha Rahman, maka sayangilah orang-orang yang ada di bumi niscaya orang-orang yang ada di langit akan menyayangimu. Demikian kisah tersebut.

Ketika hadits ini keluar ada sebuh kisah yang diceritakan oleh sahabat Umar r.a. yang ketika beliau sedang berjalan ditengah kota, beliau melihat seorang anak kecil yang sedang memegang burung dan ia sedang asik bermain dengannya, maka beliau mengasihaninya dan membelinya dari anak tersebut dan melepaskannya.

Ketika Umar telah wafat, banyak orang yang memimpikannya dan menanyakan keadaannya: apa yang telah Allah perbuat kepadamu? Kemudian ia menjawab: “Dia telah mengampuniku dan memaafkanku,” lalu mereka bertanya lagi, “dengan apa?, apakah dengan kasih sayangmu, dengan keadilanmu, atau dengan zuhudmu?” beliau pun mejawab “ketika kalian meletakkanku di dalam kubur dan menutupnya dengan tanah serta meninggalkanku sendirian, masuklah dua malaikat yang berhembus lalu seketika itu akalku melayang dan menggigil semua tubuhku karena tiupan mereka. Kemudian mereka memanggilku, mendudukkanku dan mereka hendak bertanya kepadaku. Seketika itu saya mendengar suara “tinggalkanlah hambaku ini dan jangan menakut-nakutinya sesungguhnya Aku telah mengasihaninya dan memaafkannya karena ia telah mengasihani seekor burung di dunia maka Aku mengasihaninya di hari akhirnya.

Kisah lain diceritakan bahwa ada seorang hamba Bani Israil yang melintasi sebuah bukit pasir. Dan ketika itu Bani Israil sedang tertimpa kelaparan dan ia berharap di dalam dirinya andaikan bukit ini menjadi tepung pasti kenyanglah perut orang-orang Bani Israil, maka Allah mewahyukan kepada Nabi dari para Nabinya agar mengatakan kepada si fulan bahwa Allah telah memberinya pahala karena kalau bukit pasir ini adalah tepung maka ia akan menshodaqohkannya. Barang siapa mengasihani hamba-hamba Allah maka Dia akan mengasihaninya. Sesungguhnya seorang hamba itu mengatakan bahwa andaikan itu adalah tepung niscaya manusia akan merasa kenyang maka ia mendapatkan pahala sebagaimana jikalau ia mengerjakannya.