Kategori: Terjemahan

Ghurur an-Nas (Penipuan Manusia)

PENDAHULUAN

Bismillahirrohmanirrohim

Segala puji bagi Allah SWT Dzat Yang Merajai alam semesta. Shalawat dan salam tercurahkan kepada Nabi kita, Sayyidina Muhammad SAW. Sebaik-baik utusan yang selalu memberikan kepada kita contoh yang baik. Kami mengikuti perkataan dan perbuatannya yang apabila kita berpegang teguh dengannya kita dapat mengikutinya sampai pada sebaik-baik ketentraman hati.  Semoga Engkau menjadikan kami termasuk ahli surga bersama orang-orang shalih, orang-orang jujur, semoga Allah SWT meridhoi mereka. Amma ba’du

Buku ini merupakan risalah Asy Syaikh al Imam al Ghazali, Hujjatul Islam Abu Hamid bin Muhammad yang beliau persembahkan kepada Nur Sayyid al Ustadz Nihad Hanawi Baraghbah dari Daar al Qalam al Arabi, yang bertujuan untuk memberikan cahaya/penerangan pelatihan para mukmin dan menjauhkan mereka dari kegoncangan dan penipuan. Perlindungan hanya kepada Allah SWT. Penipuan ini yang jika menimpa manusia dapat membuatnya hancur. Buku ini telah disusun secara detail menjadi lima bagian:

Pada bagian pertama al Imam al Ghazali membahas tentang penipuan/kebohongan orang-orang kafir yang ditipu oleh Syetan seperti perkataan salah seorang dari mereka yang telah merayu mereka ketika mereka masuk ke dalam surganya. “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya. Dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”[1].

Pada bab dua al Imam al Ghazali rahimahullah membahas tentang tertipunya orang-orang mukmin yang bermaksiat yang berkewajiban memohon ampunan dan rahmat Allah SWT, kecuali mereka mengabaikan amal-amal shaleh.

Sebagaimana al Imam al Ghazali membahas pada bab tiga tentang tertipunya golongan-golongan manusia, diantara mereka ada yang taat, bermaksiat dan berdosa terkecuali dosa mereka lebih banyak dari ketaatannya.

Pada bab empat al Imam al Ghazali membahas tentang mereka yang mengira bahwa mereka mengamalkan perbuatan-perbuatan yang baik dan ketaatan lebih banyak dari pada perbuatan jelek dan maksiat mereka.

Adapun bab lima dan bab terakhir al Imam al Ghazali membahas tentang golongan yang tertipu dan jenis-jenis tiap kaumnya.

Semoga Allah SWT senantiasa menjaga kita dan anda sekalian dari kebohongan/penipuan dan menjadikan kita termasuk orang-orang shalih yang taat mengerjakan dan tiada lain mengharapkan ketaatan kepada Allah SWT dan maghfiroh-Nya. Semoga Allah senantiasa memberikan petunuk kepada kita kepada jalan yang lurus, dan menjauhkan kita dari kebohongan/penipuan di dalam kehidupan dunia. Allah SWT berfirman.

( Ÿxsù ãNà6¯R§äós? äo4qu‹ysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Ÿwur Nà6¯R§äótƒ «!$$Î/ â‘rãtóø9$# ÇÌÌÈ

Artinya: “Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan jangan (pula) penipu (syaitan) memperdayakan kamu dalam (mentaati) Allah.”[2]

Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada Nabi Muhmmad, sebaik-baik manusia dan Guru Besar manusia, adapun Nabi Muhammad SAW bila duduk diantara sahabat-sahabatnya, beliau tidak pernah mengsampingkan salah seorang pun.

Zuhair Musthofa Yazaji.

Tipuan manusia

Asy Syaikh Imam Al Ghazali berkata:

Segala puji bagi Allah SWT Dzat Yang Maha Tunggal. Shalawat dan salam tetap tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk, Sayyidina Muhammad SAW.

Ketahuilah bahwa makhluk itu terbagi menjadi dua; mukallaf dan muhmal.[3] Adapun mukallaf ada yang mukmin dan ada yang kafir.[4]

Mukmin dibagi menjadi dua yaitu yang taat dan bermaksiat. Semua yang taat dan bermaksiat dibagi menjadi dua yaitu Alim dan bodoh.

Lalu aku melihat kesombongan yang pasti terjadi pada mukallaf mukmin dan kafir kecuali orang-orang yang berpegang teguh kepada Allah SWT. Saya memuji Tuhan Dzat yang Maha Menyingkap Kesombongan mereka dan menetapkan kemuliaan dan menjeaskannya dengan seterang-terangnya dan menerangkannya dengan gamblang dengan uraian yang jelas sesuai petunjuk.

Kesombongan dari makhluk selain orang kafir ada empat golongan; golongan ulama, golongan hamba, golongan pemilik harta (pengusaha), dan terakhir dari golongan sufi.  Hal pertama dimulai dengan kesombongan orang-orang kafir: kesombongannya ada dua macam yaitu kesombongan terhadap dunia, dan kesombongan terhadap Allah SWT.[5]

Adapun orang-orang yang tertipu kehidupan dunia, mereka berkata moneter lebih baik dari wanita. Dunia adalah moneter dan akhirat adalah wanita.

Moneter lebih baik dari wanita, kenikmatan dunia diyakini dan kenikmatan akhirat diragukan didalamnya. Maka kami tidak meninggalkan keyakinan dari pada keraguan. Inilah lukisan iblis laknatulloh ‘alaih sebagaimana perkataannya

tA$s% O$tRr& ׎öyz çm÷ZÏiB ( ÓÍ_tFø)n=yz `ÏB 9‘$¯R ¼çmtGø)n=yzur `ÏB &ûüÏÛ ÇÐÏÈ

  1. iblis berkata: “Aku lebih baik daripadanya, karena Engkau ciptakan aku dari api, sedangkan Dia Engkau ciptakan dari tanah”.[6]

Obatnya kesombongan ada dua: bisa membenarkan (percaya) yaitu dengan iman atau bisa dengan ilmu pengetahuan. Adapun dengan iman yaitu percaya/iman kepada Allah SWT, sebagaimana firman Allah SWT:

!$yJsù LäêŠÏ?ré& `ÏiB &äóÓx« ßì»tFyJsù Ío4quŠptø:$# $u‹÷R‘‰9$# ( $tBur y‰ZÏã «!$# ׎öyz 4’s+ö/r&ur tûïÏ%©#Ï9 (#qãZtB#uä 4’n?tãur öNÍkÍh5u‘ tbqè=©.uqtGtƒ ÇÌÏÈ

  1. Maka sesuatu yang diberikan kepadamu, itu adalah kenikmatan hidup di dunia; dan yang ada pada sisi Allah lebih baik dan lebih kekal bagi orang-orang yang beriman, dan hanya kepada Tuhan mereka, mereka bertawakkal.[7]

Dan percaya kepada utusan dan risalah yang dibawanya. Adapun dengan ilmu pengetahuan yaitu mengetahui penampakan (muka) rusak dengan penggambarannya. Dan didalamnya terdapat dua dasar, yaitu bahwa dunia[8] adalah moneter akhirat (wanita. Itu benar[9]). Dan yang lainnya: moneter lebih baik dari wanita. Inilah talbis (penyerupaan) iblis. Perkara yang benar bukanlah seperti itu, akan tetapi bahwa moneter seperti halnya wanita di dalam kadarnya dan yang dimaksud adalah lebih baik. Meskipun dia lebih sedikit maka wanita lebih baik dari padanya.

Sudah diketahui bahwa akhirat adalah kekal dan dunia tidaklah kekal. Adapun “kenikmatan dunia pasti (diyakini) dan kenikmatan akhirat diragukan didalamnya. Perkataan ini pun batil (salah). Akan tetapi hal itu yakin (pasti) bagi mukmin. Kepastian (keyakinan) ada dua pemahaman, salah satunya adalah iman dan membenarkan terhadap penampakan taqlid[10] para nabi dan ulama sebagaimana seorang dokter yang pintar bertaklid dalam pengobatannya.

Pemahaman kedua: wahyu itu diturunkan kepada para nabi. Ilham diturunkan untuk para wali. Janganlah mengira bahwa pengetahuan nabi SAW untuk perkara akhirat dan untuk perkara dunia dengan bertaklid kepada Jibril as. Maka sesungguhnya bertaklid seperti itu bukanlan pengetahuan yang benar dan  keyakinan yang benar. Dan Nabi SAW menganjurkan yang seperti itu. Akan tetapi petunjuk itu telah tersingkap dan telah disaksikan dengan cahaya bashiroh (hati) sebagaimana telah kamu saksikan dengan panca indera dan mata telanjang.

Fashal yang pertama

Orang-orang mukmin dengan lisan dan keyakinannya jika kehilangan/melenceng dari perintah-perintah Allah dan hijrah dari amal-amal shalih, mereka berbaur dengan syahwat dan mereka bergaul dengan orang-orang kafir di dalam kebohongan ini. Karena mereka memuliakan dunia dari pada akhirat. Dan inila makna kebohongan dengan kehidupan dunia yang berlaku bagi orang-orang kafir dan mukmin secara sama.

Adapun kebohongan orang-orang kafir kepada Allah SWT sebagaimana mereka berkata dengan lisan-lisan mereka bahwa Allah SWT memiliki tempat kembali. Maka kami adalah yang paling berhak daripada yang lain. Sebagaimana Allah memberitahukan tentang mereka di dalam surat al-Kahfi, sebagaimana salah satu mereka berkata

Ÿ@yzyŠur ¼çmtG¨Yy_ uqèdur ÖNÏ9$sß ¾ÏmÅ¡øÿuZÏj9 tA$s% !$tB `àßr& br& y‰ŠÎ6s? ÿ¾Ínɋ»yd #Y‰t/r& ÇÌÎÈ   !$tBur `àßr& sptã$¡¡9$# ZpyJͬ!$s% ûÈõs9ur ‘NŠÏŠ•‘ 4’n<Î) ’În1u‘ ¨by‰É`V{ #ZŽöyz $yg÷YÏiB $Y6n=s)ZãB ÇÌÏÈ

  1. dan Dia memasuki kebunnya sedang Dia zalim terhadap dirinya sendiri[11]; ia berkata: “Aku kira kebun ini tidak akan binasa selama-lamanya,
  2. dan aku tidak mengira hari kiamat itu akan datang, dan jika Sekiranya aku kembalikan kepada Tuhanku, pasti aku akan mendapat tempat kembali yang lebih baik dari pada kebun-kebun itu”.[12]

Sebab kesombongan ini ialah gambaran (tipuan) dan gambaran iblis dan hal itu karena mereka dapat melihat nikmat Allah SWT di dunia kepada mereka di dunia dan menggambarkan kepadanya nikmat akhirat sekali dan melihat sekali sampai pada menunda adzab mereka di dunia dan mereka menggambarkan kepadanya adzab akhirat. Sebagaimana Allah SWT menggambarkan tentang mereka sedang mereka berkata: “dan mereka berkata kepada diri mereka sendiri jikalau Allah SWT mengadzab kami dengan apa yang kami katakan.[13]

Sekali mereka melihat orang-orang mukmin dan mereka adalah orang-orang fakir, maka mereka ….. dan merendahkan mereka seraya berkata “Orang-orang semacam inikah di antara kita yang diberi anugerah Allah kepada mereka?”[14]

Mereka menjawab: “Kalau Sekiranya di (Al Quran) adalah suatu yang baik, tentulah mereka tiada mendahului Kami (beriman) kepadanya”.[15] Dan urutan gambaran yang diatur di dalam hati mereka bahwa mereka berkata “sesungguhnya Allah telah berbuat baik kepada kita dengan kenikmatan dunia”[16] dan orang yang berbuat baik ialah orang yang cinta.

Sesungguhna Dia Baik. Semua yang berbuat baik bukanlah pecinta, akan tetapi tetap menjadi yang baik bukan yang mencinta. Akan tetapi mungkin berangsur-angsur kebaikan itu menjadi sebab kehancurannya. Hal itu murni sebuah kebohongan kepada Allah SWT[17]. Oleh karena itu, Nabi Muhammad SAW bersabda “Allah SWT pasti melindungi hambanya yang beriman dari dunia sedangkan dia mencintainya sebagaimana ia mempertahankan orang yang sakit dengan makanan, minuman dan mereka takut akan hal itu”[18] sebagaimana dia memiliki beberapa bashirah. Jikalau dunia menemui/menghadapi mereka maka mereka bersedih. Jikalau kefakiran menghadapi mereka, maka mereka berbahagia dan mereka menyanyikan syair-syair para orang shalih. Allah SWT telah berfirman.

$¨Br’sù ß`»|¡RM}$# #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# ¼çmš/u‘ ¼çmtBtø.r’sù ¼çmyJ¨ètRur ãAqà)uŠsù ú†În1u‘ Ç`tBtø.r& ÇÊÎÈ   !$¨Br&ur #sŒÎ) $tB çm9n=tGö/$# u‘y‰s)sù Ïmø‹n=tã ¼çms%ø—Í‘ ãAqà)uŠsù þ’În1u‘ Ç`oY»ydr& ÇÊÏÈ

  1. Adapun manusia apabila Tuhannya mengujinya lalu Dia dimuliakan-Nya dan diberi-Nya kesenangan, Maka Dia akan berkata: “Tuhanku telah memuliakanku”.
  2. Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya Maka Dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”[19].[20]

Dan Allah berfirman:

tbqç7|¡øts†r& $yJ¯Rr& /èf‘‰ÏJçR ¾ÏmÎ/ `ÏB 5A$¨B tûüÏZt/ur ÇÎÎÈ   äí͑$|¡èS öNçlm; ’Îû ÏNºuŽösƒø:$# 4 @t/ žw tbrããèô±o„ ÇÎÏÈ

  1. Apakah mereka mengira bahwa harta dan anak-anak yang Kami berikan kepada mereka itu (berarti bahwa),
  2. Kami bersegera memberikan kebaikan-kebaikan kepada mereka? tidak, sebenarnya mereka tidak sadar[21].[22]

Allah berfirman:

’ÎTö‘x‹sù `tBur Ü>Éj‹s3ム#x‹»pkÍ5 Ï]ƒÏ‰ptø:$# ( Oßgã_͑ô‰tGó¡t^y™ ô`ÏiB ß]ø‹ym Ÿw tbqßJn=ôètƒ ÇÍÍÈ   ’Í?øBé&ur öNçlm; 4 ¨bÎ) “ωø‹x. îûüÏGtB ÇÍÎÈ

  1. Maka serahkanlah (ya Muhammad) kepada-Ku (urusan) orang-orang yang mendustakan Perkataan ini (Al Quran). nanti Kami akan menarik mereka dengan berangsur-angsur (ke arah kebinasaan) dari arah yang tidak mereka ketahui,
  2. dan aku memberi tangguh kepada mereka. Sesungguhnya rencana-Ku Amat tangguh.[23]

Allah Berfirman:

$£Jn=sù (#qÝ¡nS $tB (#rãÅe2èŒ ¾ÏmÎ/ $oYóstFsù óOÎgøŠn=tæ z>ºuqö/r& Èe@à2 >äó_x« #Ó¨Lym #sŒÎ) (#qãm̍sù !$yJÎ/ (#þqè?ré& Nßg»tRõ‹s{r& ZptGøót/ #sŒÎ*sù Nèd tbqÝ¡Î=ö7•B ÇÍÍÈ

  1. Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka, Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa mereka dengan sekonyong-konyong, Maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.[24]

Orang-orang yang tersesat selain itu disebutkan di al-Qur’a dan Sunah Rasulullah SAW.[25]

Barangsiapa tidak beriman kepada Allah SWT maka dia tidak akan aman dari kesombongan/penipuan dan tempat merebaknya kesombongan/penipuan itu. Orang yang bodoh dengan Allah SWT dan sifat-sifat-Nya maka sesungguhnya orang yang mengetahui Allah SWT belum aman dari tipuannya. Dan ia melihat Fir’aun, Qarun, Haman dan Namrud apa yang mereka hasilkan dengan harta yang telah diberikan kepada mereka. Allah telah memberikan peringatan akan tipuannya dalam firman-Nya:

(#qãZÏBr’sùr& tò6tB «!$# 4 Ÿxsù ß`tBù’tƒ tò6tB «!$# žwÎ) ãPöqs)ø9$# tbrçŽÅ£»y‚ø9$# ÇÒÒÈ

  1. Maka Apakah mereka merasa aman dari azab Allah (yang tidak terduga-duga)? tiada yang merasa aman dan azab Allah kecuali orang-orang yang merugi.[26]

Allah berfirman:

(#rãx6tBur tx6tBur ª!$# ( ª!$#ur çŽöyz tûï̍Å3»yJø9$# ÇÎÍÈ

  1. orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. dan Allah Sebaik-baik pembalas tipu daya.[27]

Allah berfirman:

öNåk¨XÎ) tbr߉ŠÅ3tƒ #Y‰ø‹x. ÇÊÎÈ   ߉‹Ï.r&ur #Y‰ø‹x. ÇÊÏÈ   È@ÎdgyJsù tûï͍Ïÿ»s3ø9$# öNßgù=ÎgøBr& #J‰÷ƒur①ÇÊÐÈ

  1. Sesungguhnya orang kafir itu merencanakan tipu daya yang jahat dengan sebenar-benarnya.
  2. dan akupun membuat rencana (pula) dengan sebenar-benarnya.
  3. karena itu beri tangguhlah orang-orang kafir itu Yaitu beri tangguhlah mereka itu barang sebentar.[28]

FASAL YANG KEDUA

Adapun tipu muslihat dengan sebuah perkataan: sesungguhnya Allah SWT Maha Mulia dan Maha Penyayang. Dan kami mengharap pengampunan-Nya. .……………… mengabaikan pekerjaan-pekerjaan dari sebelum harapan.[29] Raja’ (harapan) merupakan tingkatan yang mulia di dunia. Sesungguhnya rahmat Allah SWT luas dan nikmat-Nya terhimpun dan kemuliaan-Nya menyeluruh. Dan sesungguhnya kami bersatu dan beriman dengan mengharapnya dengan wasilah iman, kemulian dan kebaikan. Barangkali tempat berkembangnya raja’ mereka dengan berpegang teguh dengan kebaikan bapak ibu mereka. Dan hal itu adalah puncaknya penipuan/kebohongan.

Sesungguhnya ayah mereka dengan kebaikan dan kewaspadaan mereka masih merasakan ketakutan, muncul perkataan mereka yang ditanyakan oleh Syetan : sesungguhnya barangsiapa yang mencintai manusia, ia mencintai anak-anaknya dan Allah sungguh telah mencintai bapak-bapak mereka dan dia mencintai kamu sekalian. Maka kamu sekalian tidak membutuhkan ketaatan. Mereka termakan perkataan itu dan menipu Allah serta tidak mengetahui bahwa Nabi Nuh as ingin mempertahankan putranya namun Allah SWT mencegahna dan menenggelamkannya sampai mati sebagaimana kaumnya Nabi Nuh as tenggelam dengan payah. Sesungguhnya Nabi kita Muhammad SAW memohon izin kepada Allah SWT untuk berziarah kepada makam ibunya dan memohonkan ampunan untuknya. Maka Allah SWT memberikan izian kepada beliau untuk berziarah dan belum mengizinkannya untuk memohonkan ampunan untuk ibunya. Dan mereka melupakan firman Allah SWT:

4 Ÿwur â‘Ì“s? ×ou‘Η#ur u‘ø—Ír

dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.[30]

Dan Allah berfirman:

br&ur }§øŠ©9 Ç`»|¡SM~Ï9 žwÎ) $tB 4Ótëy™ ÇÌÒÈ

  1. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya,[31]

Dan sesungguhnya barangsiapa yang menyangka ketaatan kepada ayahya sebagaimana orang yang mengira bahwa ia merasa kenyang dengan memakan makanan dari ayahnya. Minum sampai kembung dari minuman ayahnya. Maka takwa hukumnya fardhu ‘ain dan tidak ada pahala apapun bagi ayahnya didalam ketaatan anaknya. Hanya di sisi Allah SWT pahala takwa pada hari ketika manusia lari dari saudaranya, dari ibu dan bapaknya. Kecuali orang-orang yang menempuh jalan syafaaat dan melupakan perkataan nabi Muhammad SAW: “orang yang cerdas/berakal ialah orang yang meremehkan dirinya dan bekerja setelah ia mati. Orang yang lemah ialah orang yang mengikuti hawa nafsunya dan berharap kepada Allah SWT”.[32]

Allah berfirman:

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#qãZtB#uä z`ƒÉ‹©9$#ur (#rãy_$yd (#r߉yg»y_ur ’Îû È@‹Î6y™ «!$# y7Í´¯»s9’ré& tbqã_ötƒ |MyJômu‘ «!$# 4 ª!$#ur ֑qàÿxî ÒO‹Ïm§‘ ÇËÊÑÈ

  1. Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.[33]

Dan Allah SWT berfirman:

Lä!#t“y_ $yJÎ/ (#qçR%x. tbqè=yJ÷ètƒ ÇËÍÈ

  1. sebagai Balasan bagi apa yang telah mereka kerjakan.[34]

Maka apakah dibenarkan kecuali dengan mendahulukan pekerjaan. Jika mendahulukan pekerjaan/perbuatan maka itu adalah penipuan yang tidak bertempat. Adapun disebutkannya harapan untuk mendinginkan panasnya ketakutan dan putus asa untuk pahala sebagaimana yang dibicarakan al Quran dan untuk menambah kecintaanya dalam bertambahnya.

 

FASAL YANG KETIGA

yang lebih dekat darinya ialah penipuan kaum yang diantara mereka ada yang taat dan ada yang bermaksiat. Kecuali kemaksiatan mereka lebih banyak dan mereka berkesempatan mendapatkan ampunan dan mereka mengira dan amal baik mereka telah mencukupi, namun beserta itu kejelekan mereka juga lebih banyak. Hal ini adalah puncak kebodohan. Maka kamu lihatlah seseorang yang menshadaqahkan dirham mereka yang banyak, baik yang halal maupun yang haram dan harta itu menjad miliknya dari manusia lainnya dan barang-barang subhat berlipatganda. Dan dia layaknya orang yang meletakkan 10 dirham di dalam timbangannya dan meletakkan 1000 di dalam timbangan yang lain agar kecondongan 10 lebih ringan dan ini adalah puncak kebodohan.[35]

FASAL YANG KEEMPAT

Sebagian dari mereka ada yang menyangka bahwa ketaatannya lebih banyak dari kemaksiatannya. Karena dia mengoreksi diri mereka sendiri dan menghilangkan kemaksiatannya. Jika dia berbuat ketaatan ia menjaganya dan melestarikannya. Sebagaimana orang yang memohon ampunan dengan lisannya dan bertasbih di malam dan siang harinya. Misalnya seratus atau seribu kemudian ia menggunjing orang-orang islam, membicarakan segala sesuatu yang tidak diridhai oleh Allah SWT sepanjang hari. Melenceng dari apa yang terkandung di dalam tasbeh, lalau dari apa yang disebutkan dalam akbiatnya bagi orang-orang yang berdusta, pengadudomba dan orang-orang munafik. Hal itu adalah murninya kebohongan, maka yang paling utama adalah menjaga lisan dari kemaksiatan lebih banyak dari tasbihnya, maka tasbih seseorang akan mencegahnya dari menggunjing.[36]

FASAL YANG KELIMA

Menjelaskan tentang golongan-golongan yang tertipu dan macam-macamnya

Golongan yang pertama: termasuk orang-orang yang tertipu adalah para ulama yang tertipu ada beberapa golongan. Golongan yang menentukan hukum ilmu-ilmu syariat dan akal dan mereka berusaha mendalaminya, mereka mengabaikan hilangnya anggota-anggota badan dan penjagaannya dari maksiat dan pelaziman atas ketaatan. Mereka berbohong dengan ilmunya, mereka mengira memiliki tempat di sisi Allah SWT, mereka sungguh telah sampai pada suatu ilmu dengan pencapaian yang baik dan Allah SWT tidak mengadzab hal semisalnya. Namun menerima pertolongan mereka bagi makhluk dan tidak memohon ampunan bagi dosa-dosa dan kesalahan-kesalahan mereka. Mereka adalah orang-orang yang tertipu.[37]

Jikalau mereka melihat dengan mata hati, mereka mengetahui bahwa ilmu ada dua macam: ilmu muamalah dan ilmu mukasyafah dengan Allah dan sifat-sifatnya. Maka ditegakkan himah yang dimaksud dari ilmu muamalah. Dan ilmu muamalah ialah mengetahui halal dan halam, akhlak tercela dan akhlak terpuji dan perumpaan mereka seperti seorang dokter yang mengubahnya dan ia adalah lemah. Ia mampu mengobati dirinya tetapi tidak ia lakukan, maka obat itu tidaklah memiliki manfaat hanya dengan sifat-sifat itu. Adapun obat itu bermanfaat dengan meminumnya setelah diperiksa. Mereka inilah yang lalai dari firman Allah SWT:

ô‰s% yxn=øùr& `tB $yg8©.y— ÇÒÈ   ô‰s%ur z>%s{ `tB $yg9¢™yŠ ÇÊÉÈ

  1. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,
  2. dan Sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.[38]

Mereka tidak mengatakan bahwa beruntunglah orang yang mempelajari bagaimana menyucikan jiwanya. Ia mengetahui dan mencatat ilmu itu dan mengajarkannya untuk manusia.

Mereka lalai dari Sabda Nabi Muhammad SAW: “Barang siapa ilmunya bertambah dan hidayahnya tidak bertambah, maka tidak ada tambahan baginya kecuali semakin jauh dari Allah SWT”[39] dan sabda Nabi Muhammad SAW: “sejelek-jelek manusia adalah ulama su’ (orang alim yang jelek/rusak)[40]

Nabi Muhammad SAW bersabda: “manusia yang mendapatkan adzab paling pedih pada hari kiamat ialah orang alim yang allah tidak memberikan manfaat atas ilmunya”[41] selain itu masih banyak, ialah mereka yang tertipu, na’udzu billah. Adapun jika mereka terpukau dengan kecintaan terhadap dunia; mencintai diri mereka sendiri dan mencari rahmat di dalam ketergesa-gesaan. Mereka mengria bahwa ilmu mereka dapat menyelematkan mereka di akhirat kelak, tanpa amal.

Golongan yang lain. Menghukumi ilmu dan amal yang tampak. Mereka meninggalkan maksiat-maksiat jasmani dan lalai dari hati-hati mereka serta tidak menghapus sifat-sifat tercela menurut Allah SWT dari hatinya, seperti sombong, riya, hasad, mencari kekuasaan dan kemuliaan. Menginginkan kejelekan zaman dan meminta bayaran Negara dan rakyat (hamba). Hal itu adalah tipuan yang disebabkan kelalaian mereka dari sabda Nabi SAW: “Riya adalah syirik kecil”[42] dan Sabda Nabi Muhammad SAW: “Hasad Memakan kebaikan sebagaimana api membakar kayu bakar”[43] dan sabda Nabi Muhammad SAW: “cinta harta dan kemuliaan dan menumbuhkan nifak di dalam hati sebagaimana air dapat menumbuhkan kol”[44] dan mereka lalai dari firman Allah SWT.

tPöqtƒ Ÿw ßìxÿZtƒ ×A$tB Ÿwur tbqãZt/ ÇÑÑÈ   žwÎ) ô`tB ’tAr& ©!$# 5=ù=s)Î/ 5OŠÎ=y™ ÇÑÒÈ

  1. (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna,
  2. kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,[45]

Maka mereka lalai terhadap hati mereka dan sibuk dengan perkara-perkara yang tampak (jasmani). Barangsiapa yang belum menyucikan hatinya maka ketaatannya belumlah benar. Hal itu seperti punggung yang terkena sakit kulit, maka ia dianjurkan untuk diolesi salep dan minum obat. Maka sibuk mengolesi salep n meninggalkan obat, maka sesuatu yang kelihatan dapat dihilangkan namun yang di dalam masih tersisa. Pada dasarnya sesuatu yang ada di luar menunjukkan adanya sesuatu yang didalamnya. Maka penyakit kulit itu tidak hilang selamanya dari dalam tubuhnya walaupun menghilangkan penyakit dari dalam dan membiarkan yang di luar. Begitu juga dengan khobaits (kejahatan/kejelekan) jika berada di dalam hati.[46] Akan tampak bekasnya di atas anggota-anggota tubuh.

Golongan yang lain mengetahui bahwa akhlak batin yang tercela dari sisi syari’at, kecuali mereka ta’ajub dengan diri mereka sendiri yang mengira bahwa mereka dicukupkan. Maka mereka yang paling tinggi untuk segera diberi cobaan. Adapun ia mengapung di lautan harta tanpa ia sampai pada sebuah tujuan di dalam ilmu dan sesungguhnya mereka orang yang paling sampai di sisi Allah SWT agar Dia mengujinya kemudian muncul khayalan kesombongan dan meminta keunggulan dan kemuliaan. Penipuannya. Mereka mengira bahwa hal itu semua bukanlah kesombongan[47] adapun dia memuliakan agama dan menampakkan kemulian ilmu dan pertolongan agama Allah SWT dan mereka lupa dari kesenangan iblis dengan mereka, mereka lupa dari Nabi Muhammad SAW dan pertolongannya untuk agama dengan sesuatupun dan dari kebencian mereka terhadap orang-orang kafir, bagaimanapun kondisi mereka. Dari ketawadhu’an para sahabat, rendah hati mereka, kefakiran dan ketenangan mereka sampai Sahabat Umar menegur kepadanya ketika sampai di Syam dan berkata: “sungguh kami adalah kaum yang dimuliakan Allah SWT dengan islam, maka kami tidak meminta kemulian selain didalmnya” penipuan ini menghargai permintaan kemulian agama dengan pakaian yang tipis, dan membencinya dari permintaan terhadap ketinggian ilmu dan kemulian agama.

Bilamana lisannya telah terlepas dari hasad di dalam jiwanya atau seseorang yang menolak sesuatu dari perkataannya, maka ia tidak mengira dirinya bahwa hal itu adalah hasal. Ketika ia berkata kendatipun ia adalah marah untuk kebenaran, menolak terhadap orang yang berbuat salah dalam permusuhannya di dalam sesuatu yang ditolaknya, maka ia sedang tertipu. Maka sesungguhnya ia, kalau memfitnah ulama dengan menyebarkannya, dari jiwanya ia tidak marah akan tetapi mungkin ia senang, jika didepan manusia ia marah, maka hatinya mungkin menyukainya.[48] Mungkin ia menampakkan ilmunya dan ia berkata: “tujuan saya agar bisa memanfaatkan makhluk, maka ia adalah orang yang ria.[49] Karena sesungguhnya kalau tujuannya adalah memperbaiki manusia agar menjadi kebaikan yang paling disukai atas kemampuannya atau lainnya dari dirinya atau selainnya, diatasnya atau selain dia, mungkin ia masuk kepada penguasa, ia mengasihi mereka dan memuji mereka. Maka yang seperti itu, dikatakan: adapun tujuan saya agar memanfaatkan kaum muslimin dan menolak mereka dari penipuan maka hal itu adalah kebohongan/penipuan.[50] Meskipun tujuannya itu untuk kebahagiaannya jika tujuan itu dijalankan oleh orang lain, kalau ia melihat orang lain dari dirinya yang seperti dirinya dihadapan penguasa yang dapat menolong seseorang, ia marah. Mungkin ia mengambil sebagian hartanya,[51] jika hal itu terlintas dalam pikirannya maka hal itu adalah haram. Syaitan berkata kepadanya, harta ini tidak ada pemiliknya, ia bisa digunakan untuk kemashlahatan kaum muslimin, kamu adalah pimpinan mereka, pengetahuan mereka kepadamu hal itu digunakan untuk menegakkan agama. Ia tertipu dengan kesamaran ini dalam tiga perkara. Pertama, bahwa harta itu tidak ada pemiliknya. Kedua, bahwa dia adalah termasuk orang-orang yang shalih diantara kaum muslimin. Dan ketiga, bahwa dia adalah pemimpin yang tidak ada pemimpin kecuali orang yang menolak dunia seperti para nabi dan sahabat. Yang seperti itu sebagaimana disabdakan Nabi Isya a.s: “orang alim yang jahat/jelek[52] seperti padang pasir yang terdapat di mulut lembah, ia minum air dan dia tidak meninggalkan air itu untuk menyelamatkan tanaman.

Golongan-golongan penipuan ahli ilmu banyak, mereka yang rusak lebih banyak dari pada yang baik. Kelompok yang lain, menghukumi ilmu dan menyucikan anggota-anggotanya, menghiasi mereka dengan ketaatan, menjauhi kemunculan-keumunculan maksiat, mengawasi sikap-sikap diri dan kejernihan hati dari riya, hasad dan sombong, kebencian dan mencari kemuliaan, mereka berusaha sekuat tenaga dalam menghindari dari semua itu, mereka mencabut tempat tumbuhnya yang mulia dan kuat dari dalam hati. Akan tetapi mereka tertipu dan masih dalam kelalaian hati dari bersitan-bersitan kehendak syaitan dan bersitan-bersitan kebohongan diri sendiri.

[1] Al Kahfi : 35-36

[2] QS. Luqman: 33

[3] Muhmal ialah orang yang diangkat darinya beban dan dia termasuk salah satu dari 3 golongan ini: bayi, orang yang tidur dan orang gila. Hal itu sebagaimana disebutkan dalam sebuah hadits “catatan manusia diangkat dari tiga hal, bayi sampai ia baligh, orang yang tidur sampai ia bangun dan orang gila sampai ia berakal”. (HR Abu Daud dll). Katanya lagi, yahtalim (mimpi basah) adalah adalah yablugho (dewasa) yang masuk dalam ruang lingkup mukallaf sebagaimana yang disebutkan oleh Imam Ghazali dan dikenakan kepada mereka untuk mengklasifikasikan bahwa dia dari termasuk dalam pokok pembahasan kitab Allah SWT.

[4] Kafir: disini terkumpul dibawah kata kafir, yang termasuk diantaranya; munafiq dan kafir terang-terangan. Orang-orang yang termasuk keduanya, Allah SWT menyebutkan di dalam al-Qur’an di awal-awal surat al-Baqarah

¨bÎ) šúïÏ%©!$# (#rãxÿx. íä!#uqy™ óOÎgøŠn=tæ öNßgs?ö‘x‹Rr&uä ÷Pr& öNs9 öNèdö‘É‹Zè? Ÿw tbqãZÏB÷sãƒ

[5] Hal itu sebagaimana difirmankan dalam surat luqman ayat 33

Ÿxsù ãNà6¯R§äós? äo4qu‹ysø9$# $u‹÷R‘‰9$# Ÿwur Nà6¯R§äótƒ «!$$Î/ â‘rãtóø9$#

Hal itu sesungguhnya Allah SWT menjadikan kesombongan mengalir. Adapun dari kehidupan dunia adalah termasuk kesombongan itu. Adapun kehidupan dunia yaitu di dalam

[6] QS Shad: 76

[7] QS. Asy Syura: 36

[8] Diantara dua gambaran ini bukanlah terdapat di dalam kitab al-Makhthuthot, adapun hal itu diletakkan untuk menyempurnakan makna

[9]idem

[10] dalam hal ini, shohibul jauharah berkata:

Ketika semua orang bertaklid dalam bertauhid # keimanannya belum berpindah dari kemungkarannya

Maka didalmnya terdapat sebagian kaum yang bercerita tentang makhluk # yang lainnya mendapatkan penyingkapan

Maka ia berkata: jika dikukuhkan dengan perkataan yang lain # maka cukuplah kecuali ia masih dalam keadaan yang membahayakan.

Dan Ash Showi mengaitkannya dalam perkataannya: sesungguhnya orang yang mengetahui Allah dengan tanda-tandanya walaupun secara umum. Dan walaupun ia tidak mendapatkannya secara istilah ahli kalam (tauhid) maka ia adalah seorang mukmin. Seirama dengan barang siapa secara mendasar mengetahui Allah SWT tanpa dalil akan tetapi dengan taqlid didalamnya terdapat enam perkataan: sungguh telah disebutkan oleh Ash Showi dan menggantungkan pada salah satunya: yang benar ialah yang wajib diganti: sesungguhnya mukmin bermaksiat dengan meninggalkan pandanga meskipun ia adalah seorang yang ahli. Akan tetapi disana terdapat perkataan yang menyebutkan dia tidak jauh dari orang disebutkan akan tetapi bertambah bahwa ia adalah dekat kepada hati dan akal secara bersamaan. Hal itu ialah perkataan yang unggul dalam hal tasawuf dan didalamnya: bahwa secara teoritis adalah haram dan inilah madzhab yang unggul dalam tasawuf. Sesungguhnya mereka berkata: ketika ia telah hilang sampai menunjukkan tanda-tanda kepadanya dan ketika ia samar sampai ia meninggalkan bekas yang membuktikannya.

Ibnu Arabi menyebutkan lima macam keimanan: iman yang bertaqlid, iman yang berilmu; iman yang kasat mata (ainan); iman yang benar dan iman yang hakiki. Dua macam iman yang pertama sepaham dengan pemahaman awal yang disebutkan oleh Imam Ghazali. Adapun tiga terakhir termasuk dibawah pemahaman yang kedua yaitu yang dikhususkan untuk para wali dan nabi.

[11] Yaitu: dengan keangkuhan dan kekafirannya

[12] QS. Al Kahfi : 35-36. Shohibul hikam berkata: takutlah dari wujud bagus perilakunya kepadamu dan kejelekan-kejelekan yang terus menerus bersamanya yang akan menjadikannya dekat “kami akan mendekatkan mereka dari arah yang tidak mereka ketahui” hal inilah yang dihasilkan dengan menahan gambaran beserta thoghut-thoghut bumi sampai pada zaman kita. Hal ini sebagaimana thoghut-thoghut itu menggambarkan dalam suatu gambaran seseorang dan gambaran kekuasaan yang absolut dan dalam gambaran pemikiran yang hancur. Maka kami tidak menggambarkan bahwa kebijaksanaan kami seperti kebijaksanaan Allah bersamanya maka adapun Dia memberikan pertolongan untuk mereka agar menambah  batas kemudian Dia mengambil meraka dan ………………

[13] QS. Al mujadalah, 2: sungguh mereka telah jauh dari firman Allah SWT:

ولاتحسبن الذين كفروا انما نملى لهم خير لأنفسهم. إنما نملى لهم ليزدادوا إثما ولهم عذاب مهين” dan firman Allah SWT سنستدرجهم من حيث لايعلمون” dan himpunan ini sebagaimana adanya nikmat dalam tampaknya pemberian. Dan hal dan golongan ini menyaksikan pemberian dan meniadakan didalamnya dan melupakan dirinya dan menyaksikan penguasaan kebaikan kepadanya serta menutupi penguasaan atas pengambilan nikmat dengan penyaksian orang yang berbuat baik dan menutupi dari mensyukuri pemberian nikmat dan mengakhirkan penyiksaan.

[14] QS Al-An’am : 53

[15] QS. Al Ahqaf: 11. (Maksud ayat ini ialah bahwa orang-orang kafir itu mengejek orang-orang Islam dengan mengatakan: kalau Sekiranya Al Quran ini benar tentu Kami lebih dahulu beriman kepadanya daripada mereka orang-orang miskin dan lemah itu seperti Bilal, ‘Ammar, Suhaib, Habbab radhiyallahu anhum dan sebagainya.) permisalan-permisalah mereka tersekat dalam masyarakat muslim yang menolak kebohongan dan kesombongan kepada makhluk Allah dan menolak pelecehan dan penghinaan dari keadaan yang lain secara hasud dan dengki sehingga sampai menjangkit orang bodoh, orang alim, orang umum dan pencari ilmu.

[16] Di dalam kitab al-Makhthuthot kata (al Akhirah) sebagaimana telah disebutkan di atas adalah benar.

[17] Kadang muslim menipu dengan perkara-perkara gambarannya yang berupa nikmat akhirat, kebatinan, nasib diri dan mencari jasa manusia, dan kebaikan baginya. Maka merekalah yang sombong dengan shalat mereka, mereka mengira diri mereka sendiri menjadi pemilik nasib di sisi Allah SWT. Akhlak mereka menjadi jelek dalam bergaul dengan makhluk Allah SWT dan dia sendiri yang mendidikan dengan keyakinan akhirat untuk diri mereka sendiri kepada mereka. Maka hal ini tingkat kehancuran awal.

[18] HR Hakim, ia berkata bahwa keshahihan sanadnya adalah marfu’. Dan disebutkan di dalam kitab al Makhthuthot dengan lafadz yang lebih bagus sebelum kata yang pertama “membela hambanya dari dunia sebagaimana apa yang dipertahankan”salah satu dari mereka dari rasa sakitnya dengan makanan dan minuman sedang ia mencintainya (HR Tirmidzi)

[19] Allah menyalahkan orang-orang yang mengatakan bahwa kekayaan itu adalah suatu kemuliaan dan kemiskinan adalah suatu kehinaan seperti yang tersebut pada ayat 15 dan 16. tetapi sebenarnya kekayaan dan kemiskinan adalah ujian Tuhan bagi hamba-hamba-Nya.

[20] QS. Al Fajr: 15-16

[21] Lihat surat at Taubah ayat 55, dan Lihat surat Ali Imran ayat 178

[22] QS. Al Mu’minun: 55-56

[23] QS. Al Qalam: 44-45

[24] QS. Al An’am: 44

[25] Sandaran tersebut bukan di dalam kitab al Makhthuthot untuk menyamakan persepsi (arah bicara)

[26] QS al A’raf: 99

[27] QS. Ali Imran: 54

[28] QS. Ath Thaariq: 15-17

[29] Shohibul hikmah berkata: “sebuah harapan diseertai pekerjaan kecuali dia berangan-angan. Adapun harapan (raja’) yaitu bergantungnya hati kepada sesuatu yang diinginkan dan dihasilkan di waktu yang akan dating beserta mengambil hasil pekerjaan untuknya. Adapun angan-angan

[30] QS al An’am : 164, maksudnya: masing-masing orang memikul dosanya sendiri-sendiri.

[31] QS an-Najm: 39 dan dikiaskan kepada keluarga, anak-anak dan bapak-bapak yang pada hari itu atas kedekatan yang melekat dengan guru-guru pendidikan dan akhlak sebatas kedekatan tempat darinya dan kedekatan kepada Allah SWT. Telah diketahui keadaan Abdullah bib abi bin Sulul, sorang pemuka orang munafik yang mempersempit hidup bertetangga rasulullah di dalam majlis. Ia adalah orang yang mengambil tempatnya yang paling dasar di neraka. Beda halnya Uwais al Qarni yang belum pernah melihat Rasulullah SAW dan belum pernah bermajlis dengan beliau namun sungguh kecintaannya kepada nabi membuatnya berani menghadapi pamannya Nabi, Abu Lahab yang rusak kedua tangannya dan terbakar oleh api neraka. Sampai Nabi bersabda kepada Sayyidina Umar dan Sayydina Ali: “apabila kalian bertemu Uwais, maka mintalah doa kepadanya”

[32] Di dalam kitab al Makhthuthot disebutkan kata al Ahmaq. Menggantikan kata al ‘Ajiz. Sebagaimana telah diriwayatkan oleh at Tirmidzi didalam pembicaraan di atas bahwa hadits tersebut adalah hadit hasan. Hakim meriwayatkan di kitab Mustadrak-nya dan menshahihkannya atas syarat al Bukhari dan Ahmad bin Hambal meriwayatkan di Musnadnya dan Ibnu Majah di Musnadnya dan Abu Bakar bin Abdullah bin Abi Maryam bahwa hadis tersebut adalah dha’if. Adapun dia telah mencuri rumahnya dan mencampurnya. Adz Dzahami mengatakan darinya: tidak, demi Allah Abu Bakar telah meriwayatkannya

[33] QS. Al Baqarah: 218

[34] QS. Al Waqi’ah: 24

[35] Disini harus dibedakan antara dua hak yang ditempati bagi setiap muslim baligh dan mukallaf. Hak yang pertama ialah haknya Allah SWT (lillahi ta’ala) dan hak yang kedua adalah haknya makhluk (lilkhalqi). Adapun hak Allah SWT atas hambanya ialah tetap atas perkenannya dan dari sini kemampuan shadaqahnya tidak mungkin memberatkan atas kemampuan berbuat jelek didalmnya sebagai hak-hak makhluk yang dirampok dan dighosob sebelum shadaqahnya akan tetapi keadaannya ialah seperti keadaan seorang laki-laki yang disebutkan oleh Nabi SAW dalam hadits tersebut dan ia bersabda: “sesungguhnya Allah SWT adalah Dzat Yang Maha Baik dan tidak akan menerima amal kecuali itu adalah amal baik” dan sesungguhnya Allah SWT memerintahkan orang-orang mukmin sebagaiamana diperintahkannya para rasul dalam firmannya dalam surat al-Mu’minun ayat 51 “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya aku Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”. dan Allah berfirman dalam surat al-Baqarah ayat 172: 172. Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu.” Kemudian disebutkan bahwa seorang laki-laki melanjutkan perjalanannya, kusut rambutnya dan menghamburkan debu seraya mengangkat tanyannya ke langit sambil berdoa, Ya Tuhanku, ya Tuhanku, makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram dan makan siangnya haram. Maka doa saya dikabulkan untuk hal itu (HR. Muslim dan Tirmidzi)

[36] Cukuplah perkataan ini: apa-apa yang dilafalkan dari sebuah perkataan kecuali tidak lepas dari catatan Raqib dan ‘Atid. Nabi Muhammad SAW bersabda: “sesungguhnya seorang laki-laki yang berbicara dengan sebuat kalimat yang diridhai Allah SWT dan ia mengira kalimat tersebut akan sampai, maka niscaya Allah akan mewajibkan baginya ridha-Nya sampai hari kiamat”, sesungguhnya seorang laki-laki berbicara dengan sebuah kalimat yang dimurkai Allah SWT, ia mengira kalimat itu akan sampai, maka niscaya Allah akan murka dengan kalimat itu sampai hari kiamat”

[37] Merekalah termasuk golongan yang banyak. Sebagian kecil mereka mengetahui penipuan ini dan merekalah termasuk orang-orang yang dirahmati Allah SWT. Maka kami melihat salah satu diantara mereka bergaul dengan makhluk Allah dengan pandangan yang tinggi dan menanam sebagian mereka dan kebenciannya di dalam hati manusia dengan pantulan Nur Nabi terpilih kita Muhammad SAW yang beliaulah manusia yang paling tawadlu’ yang tidak diketahui diantara sahabat-sahabatnya ketika duduk bersama mereka. Penipuan ini masih beranakpinak di dalam jiwa-jiwa pencari ilmu dalam ketiadaan tawajuh hati, ruh dan pendidikan yang dilakukan oleh nabi Muhammad SAW untuk para sahabatnya. Dan mereka memenangkan pendidikan itu oleh tangan para ulama pendidikan, penyucian dan kebaikan (ihsan)

[38] QS Asy Syams : 9-10

[39] Di dalam kitab al-Makhthuthat disebutkan kata (zuhdan) menggantikan kalimat (hudaa) sebagaimana diriwayatkan oleh ad Dailami dalam kita sanad al Firdaus dan Haditsnya Ali dengan sanad yang lemah. Ibnu Hibban juga meriwayatkan di dalam kitab Raudhatul ‘Uqala hadits mauquf atas Hasan dengan lafal

من ازداد علما ثم ازداد على الدنيا حرصا لم يزدد من الله الا بعدا.

Abu al Fath al Azdy meriwayatkan dalam hadits-hadits dhaif dari haditsnya Ali dengan lafal

من ازداد علما ثم ازداد للدنيا حبا ازداد الله عليه غضبا.

[40] Ad Daramy meriwayatkan hadits mursal dengan lafal (kehancuran umatku adalah karena orang alim yang dusta dan sejelek-jelek kejelekan adalah kejelekan ulama) adapaun bila Dia menjadikan mereka sejelek-jeleknya kejelekan dan sejelek-jeleknya manusia untuk ukuran kejahatan yang melekat pada umat. Maka penyimpangan orang alim menandakan penyimpangan alam semesta. Karena orang laim menempati posisi qudwah (orang yang diikuti) dan tali kendali bagi orang-orang yang ada di sekelilingnya. Sesungguhnya salah satu dari mereka mengingkati dalam sebuah kejahatan ketika mencari pahala ilmunya dan kebebasan untuk keluar dari kesungguhan kebenaran dan kebaikan sebagaimana difirmankan Allah: Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan Allah membiarkannya berdasarkan ilmu-Nya…”

Adaun Dia menjadikan umat bergolong-golongan, berpartai-partai dan berbangsa-bangsa, mereka layaknya termasuk bagian dari kejelekan ulama yang dimiliki mereka dengan kecintaan atas kepemimpinannya, menemaninya, bersandar padanya, dan mengharap nasib baik kepada raja-raja dan penguasa. Permisalan-permisahalan itu ada di dalam lembaran-lembaran sejarah yang terlindas zaman dan selain itu yang lemah untuk diulang kembali.

[41] Diriwayatkan oleh Thabrani, secara marfu’

[42] Disebutkan di dalam kitab al makhthuthot (al ashghar) yang benar adalah apa-apa yang datang di atasnya. Sahabat Imam Ahmad meriwayatkan dengan sanad yang baik dan Ibnu Abi ad Dunya dan Baihaqi secara marfu’ dengan lafal :

إن أخوف ما اخاف عليكم الشرك الأصغر قالوا: وما الشرك الأصغر؟ قال: الرياء

Allah berfirman: jikalau Allah membalas jasa perbuatan-perbuatan mereka, maka mereka pergi kepada orang-orang yang bagi dunia ini mereka terlihat, maka lihatlah apakah mereka mendapatkan balasan yang layak.

[43] Diriwayatkan oleh Abu Daud secara marfu dengan lafal

إياكم والحسد فإن الحسد يأكل الحسنات كما تأكل النار الحطب او قال العشب

[44] Ini adalah sebuah hadits. Al Hafidz al ‘Iraqi berkata: saya tidak menemukannya.

[45] QS. As Syu’ara : 88-89

[46] Kejahatan-kejahatan hati ialah unsur yang paling kuat yang menyerang hati seorang muslim. Jika kejahatan-kejahatan yang tampak hilang secara hukum dengan bergaul secara terus menerus untuk orang-orang syariat dan iman adz dzahiri. Menjadi tidak masuk akal apabila perkara munkar yang tampak datang dan dia sedang bergaul dengan orang-orang yang senang berbuat baik, memerintahkan kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran akan tetapi tidak masuk akal jika hati yang sakit dari kejahatan-kejahatan di dalamnya agar bergerak, maka teman-temannya pun tidak bisa memahami sebagaimana ia menggantikan seseorang untuk menggerakan hasad di dalamnya dan sebagaimana ia menggantikan dirinya dari kecintaan terhadap dunia, kehormatan, syahwat dan kebaikan basalan dari manusia terhadapnya. Hal itu ia juga menggantikan seseorang yang disurupi iblis dalam dirinya dan melihatnya dalam kemuliaan yang menyulitkan manusia untuk menguasainya. Penyakit-penyakit kejahatan ini tidak mungkin diobati kecuali dengan mendatangkan pendidik-pendidik khusus dari ahli ilmu dan hati untuk menyembuhkan dan mengobatinya. Hal itu seperti halnya penyakit kulit badan maka ia diharuskan berobat kepada dokter badan yang tampat untuk disembuhkan. Maka penyakit kulit batin tidak akan hilang kecuali oleh dokter-dokter hati dan ia diwajibkan obat baginya dari pandangan Nabi Muhammad dan sahabatnya

[47] Mereka itulah orang yang ilmu dan hatinya berubah Allah menyesatkan mereka terhadap ilmu dan mereka harus menanggung setiap penyimpangan yang telah mereka perbuat kepada orang banyak dan mereka mencari takwil dari berbagai takwil yang sesat. Sayyiduna Ali bin Abi Thalib memaknai didalmnya: “sesungguhnya hal itu merupakan perkataan yang benar yang saya inginkan menjadi salah” mereka, diantara mereka dan jalan yang benar hanyalah akibat dari penyimpangan hawa nafsunya, pengakuan dan penetapan hati terhadap sabda  Nabi Muhammad SAW: “setiap manusia memiliki kesalahan dan sebaik-baik orang yang salah adalah orang-orang yang mau bertaubat”.

[48] Kelalaian yang kembali disini atas perbuatan fitnah yang diterima dari orang lain dari ulama dan ini termasuk penyakit-penyakit hasad yang dibenci diantara para orang alim.

[49] Dari golongan ini, mereka adalah orang-orang yang menolak hadits sedang mereka adalah orang yang mulia diantara manusia yang menyalakan api, maka Allah  mendatangkan salah satu dari mereka pada hari kiamat sebagaimana yang ia sebutkan (seorang laki-laki yang belajar suatu ilmu, ia mengajarkannya dan membaca al-Qur’an. Maka Allah SWT datang dan memberitahukan kenikmatannya dan bertanya: apa yang kamu perbuat di dunia? Ia menjawab: “saya belajar ilmu, mengajarkannya dan membacakan al-Qur’an kepada Engkau, Dia menjawab “Kau Telah berbohong”, akan tetapi kamu mempelajari agar disebut sebagai orang alim dan kamu membaca al-Qur’an agar kamu disebut orang yang gemar membaca al-Qur’an. Dikatakan “kemudian diperintahkan untuk dimasukkan ke neraka, ia diseret mukanya sampai ia masuk neraka …….) sampai habis hadits itu yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Nasai.

[50] Hal itu sebagaiaman diriwayatkan oleh Imam Bukhori : diriwayatkan oleh Ibnu Umar r.a. bahwa manusia berkata: sesungguhnya kami memasuki kepada penguasa kami dan kami berkata kepada mereka dengan hajat-hajat yang kami inginkan dari mereka ketika kami menginggalkan mereka? Ibu Umar r.a. berkata: kami mengira bahwa hal ini adalah kemunafikan pada zaman Rasulullah SAW.

[51] Merekalah yang tidak dapat mendapatkan baunya surge. Sesungguhnya bau surga pasti dapat dicium dari tempat berjalan umum itu. Hal itu karena Rasulullah SAW bersabda: diriwayatkan oleh Sahabat Abu Hurairah r.a. ia berkata: Rasulullah telah bersabda : barang siapa memepelajari ilmu dari sesuatu untuk mencari ridha Allah SWT, ia tidak belajar kecuali ditimpakan kepadanya tujuan dari dunia dan ia tidak menemukan mengenal surga pada hari kiamat) yaitu baunya.

[52] Golongan ini dari ulama su’ yang tidak bisa terlepas dari zaman dan tempatnya akan tetapi mereka bergembira hati lari dan sedikit tahu oleh sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya tentang zaman yang paling utama. Maka Allah menjadikannya sebagai zaman yang paling utama dan zaman setelahnya. Sampai pada akhir hadits. Maka hal ini adalah sesuatu yang bisa diselematakan dengannya tetapi bukanlah orang yang pantas diselamatkan/diserahkan dengannya. Ia adalah mengharap tujuan untuk memfitnah pada ulama orang-orang islam untuk mewujudkan sebuah kaum-kaum muda dari ulama su’. Hal ini membuka pintu untuk orang umum agar memutuskan dari setiap ikatan yang berpegang teguh pada ucapan-ucapannya ketika bergaul ulama shalih dan dalam menolak, menjauhi dan takut kepada mereka dan ini adalah penyamaran yang luar biasa oleh iblis dan musuh-musuh islam yang terus menyusup kepada masyarakat islam. Menghadapi fitnah-fitnah mereka sampai membinasakannya dan bukanlah untuk setiap muslim atau telah dimaafkan di mata Allah. Maka dia mendatangkannya dan lalai dari firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS. Al- Hujurat: 6)

 

Amalan-amalan Utama pada hari Jumat dan Kisah Masuk Islamnya Sahabat Abu Bakar Ash Shidiq

Diceritakan oleh Abi Nashr al Washiti, ia berkata: ia pernah mendengar Abu Raja’ al ‘Atharidi bercerita tentang Abu Bakar as Shidiq. Bahwa ada orang Arab yang datang kepada Nabi Muhammad SAW dan berkata: saya telah mendengar tentang anda bahwa anda berkata “Dari Jum’at ke Jum’at dan dari shalat ke shalat adalah kafarat bagi mereka yang menghindari dosa-dosa besar diantara Jum’at ke Jum’at dan shalat ke shalat. Kemudian Rasulullah menjawab: ya benar kemudian orang itu menambahkan amalan diantara waktu-waktu itu.

Kemudian Rasulullah bersabda “mandi pada hari Jum’at ialah kafarat, berjalan untuk shalat Jum’at ialah kafarat, dan setiap langkah kakinya seperti halnya amalan 20 tahun. Jika ia telah selesai melaksanakan shalat Jum’at Allah akan memberinya pahala dengan pahala amal selama dua ratus tahun.

Abu Bakar as-Shidiq telah meriwayatkan hadits ini dan menyebutkan bahwa ada seorang pedagang pada jaman jahiliyah. Sebab masuk islamnya ialah ketika di syam, ia melihat rembulan dan matahari bersatu padu di dalam kamarnya dan ia pun mengambilnya dengan kedua tangannya kemudian menghimpunnya di atas dadanya. Lalu ia menutupinya dengan sorbannya.

Ketika ia teringat, ia pergi ke seorang pendeta nasrani untuk menanyakan tentang mimpinya, kemudian ia mendatanginya dan menceritakana tentang mimpinya untuk di takwilkan oleh pendeta nasrani tersebut. Pendeta nasrani tersebut bertanya “dari mana asal anda?” pedagang itu menjawab “saya berasal dari Mekkah”, pendeta itu melanjutkan pertanyaannya “anda dari kabilah mana?”, pedagang itu menjawab “Saya dari kabilah Tym, lalu pendeta itu bertanya lagi “apa maksud anda datang kemari?”.

Pedagang segera itu menceritakan mimpinya. Kemudian pendeta nasrani itu menjawab menerangkan ta’bir mimpinya “akan datang seorang pemuda dari bani hashim di zaman anda, dia disebut Muhammad al Amin, ia berasal dari bani Hasyim dan ia menjadi Nabi akhir zaman, kalau dia tidak diciptakan, niscaya Allah tidak akan menciptakan langit dan bumi beserta isinya, Dia tidak menciptakan Adam as. Dia tidak menciptakan Nabi-nabi dan Rasul. Ia adalah Tuannya para nabi dan rasul dan penutup para nabi dan rasul. Sedangkan anda akan memeluk agama islam dan menjadi perdana menterinya dan menjadi khalifah setelahnya, inilah ta’bir mimpi anda, saya telah menemukan sifat-sifat yang dimiliki pemuda ini di Taurat, Injil dan Zabur. Sesungguhnya saya telah masuk islam tapi saya bersembunyi dari orang-orang nasrani karena takut ketahuan mereka.

Ketika Abu Bakar mendengar kisah ini dari pendeta nasrani tadi, hatinya tergetar dan rindu ingin berjumpa dengannya. Kemudian ia segera menuju Mekah untuk mencarinya, ia sangat mencintainya dan sudah tidak sabar berjumpa dengannya.

Selang beberapa waktu, Abu Bakar telah berjumpa dengan Rasulullah, kemudian beliau bersabda “Wahai Abu Bakar, pada suatu hari dan pada hari-hari anda datang kepadaku dan duduk bersamaku, kenapa anda belum memeluk islam. Abu Bakar berkata “Kalau anda adalah seorang nabi, maka anda semestinya memiliki mukjizaat, kemudian Nabi menjawab “apakah tidak cukup mukjizat yang anda lihat di Syam dan seorang pendeta nasrani telah menta’birkan mimpi anda dan menceritakan kepadamu tentang islamnya. Ketika Abu Bakar mendengar hal itu, ia langsung membaca Syahadat “asyhadu an laa ilaaha illa Allah wa annaka rasulullah, masuk islamlah Abu Bakar dan agamanya baik.

Kisah lain diceritakan bahwa ada dua orang pemuda majusi kakak beradik pada masa Malik bin Dinar yang menjadi penyembah api. Salah satu pemuda itu berumur 73 tahun dan yang satunya lagi berumur 35 tahun. Saudara mudanya bertanya kepada yang tua “kemarilah, sampai menarik api tersebut, apakah anda menghormati api atau membakarnya  sebagaimana api itu membakar orang yang menyembahnya, atau anda menghormatinya berarti kita menyembahnya atau sebaliknya.

Saudara yang tua menjawab “ya saya akan menyalakan api.”  Kemudian saudara muda berkata kepada yang tua, “Apakah anda dahulu yang meletakkan tangannya diatas api atau saya dahulu?” kemudian saudara yang tua menjawab “Tidak, kamu dulu saja,” maka saudara yang muda pun meletakkan tangannya di atas api dan api itu membakar jari-jemarinya dan merintih “aaah” dan mengangkat tangannya dari api itu dan berkata “Saya telah menyembahmua selama 35 tahun tapi anda menyakitiku.

Saudara yang muda mengajak saudara yang tua sampai menyembahnya dan menjadi tuhan satu-satunya yang disembah “jikalau Tuhan menyakiti kita dan meninggalkan perintahnya selama 500 tahun misalnya, maka dia bisa mengampuni dan memaafkan dosa-dosa kita hanya dengan ketaatan sesaat dan permohonan ampun sekali. Maka saudara yang tua menjawab dan mengajaknya kepada seseorang yang dapat menunjukkan kita kepada jalan yang lurus dan mengajarkan kita kepada agama islam. Kemudian disepakatilah pendapat mereka berdua untuk pergi kepada Malik bin Dinar untuk mengetahui lebih dalam tentang agama islam, kemudian mereka segera mendatanginya dan bertemu dengannya di gelapnya kota Basra sedang duduk bersama orang banyak dan mengagungkan mereka dan banyak hal yang mesti dilakukan, ketika mata mereka memandang dan mendapati Malik bin Dinar, Saudara yang tua berkata kepada saudara yang muda, “saya tidak jadi memeluk agama islam, menyembah api sudah melewati lebih jauh dari umurku  walaupun saya pasrah dan kembali masuk islam dan agama Muhammad keluargaku akan menelanjangiku dan seluruh tubuhku dan api lebih saya sukai dari pada perbuatan menelanjangi mereka kapada saya.

Kemudian saudara yang muda berkata “jangan anda lakukan itu, perbuatan menelanjangi mereka hanya sesaat sedang api tidak akan hilang, namun, saudara yang tua tidak mendengarkan kata-kata saudaranya yang muda dan saudara yang muda berkata “Anda dan keinginan anda. Anda adalah orang yang paling celaka dan yang celaka wahai pahlawan dunia dan akhirat, saudara yang lebih tua tetap berserikeras dan kembali untuk tidak memeluk Islam, tapi kembali menyembah api. Kemudian saudara yang muda bersama anak dan istrinya masuk diantara orang-orang di dalam majlis dan ikut duduk bersama mereka sampai Malik bin Dinar selesai berbicara dan nasehatnya.

Kemudian ada seorang laki-laki berdiri dan menceritakan sebuah kisah dan bertanya kepada saudara yang muda “apakah dia akan berpaling dari agama Islam dan ahlu baitnya, maka berpaling dari mereka dan mereka memeluk agama Islam semua. Maka seluruh manusia menangis bahagia melihat kejadian itu dan ketika laki-laki itu hendak pulang Malik bin Dinar menyuruhnya untuk duduk kembali sampai seluruh manusia mengumpulkan buat kamu harta benda, lalu ia menjawab “saya tidak akan menjual agama dengan dunia kemudian berubah dan ia masuk ke dalam taman yang didalamnya terdapat sebuah rumah mewah dan ia pun memasukinya.

Ketika hari telah menjelang pagi, istrinya menyuruhnya untuk pergi ke pasar guna mencari pekerjaan dan berbelanja dengan gajimu untuk kita makan. Maka ia bergegas pergi ke pasar, namun ia belum mendapatkan pekerjaan. Dalam diam ia termenung dan berkata pada dirinya sehingga ia menunaikan ibadah kepada Allah SWT, maka ia telat masuk ke masjid untuk berjamaah dengan Rasulullah SAW hingga ia malam ia tetap disana.

Lalu dia pulang dengan tangan kosong. Istrinya bertanya “apakah engkau belum mendapatkan sesuatu apapun hari ini. Wahai istriku, hari ini saya telah bekerja kepada Malik, namun ia belum memberiku upah, siapa tahu besok ia akan memberikannya. Akhirnya malam itu mereka tidur dalam keadaan lapar. Keesokan harinya ia pergi lagi ke pasar dan belum juga mendapatkan pekerjaan, kemudian ia pergi ke masjid dan shalat hingga larut malam. Kemudian ia pulang dan istrinya bertanya lagi “apakah hari ini juga belum mendapatkan pekerjaan, laki-laki itu menjawab “saya telah bekerja pada Malik yang saya kerja kemarin, saya berharap hari ini tetapi ia belum memberikannya juga sedangkan hari ini adalah kamis, saya berharap besok ia akan memberikannya. Maka hari itu pun mereka bermalam dalam keadaan lapar lagi. Ketika pagi hari telah menjelang, sedangkan hari itu adalah hari jumat, lalu ia pergi ke pasar namun belum juga mendapatkan pekerjaan, lalu ia pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat dua rakaat dan berdoa seraya mengangkat kedua tangannya dan berdoa “Tuhanku, Engkau telah memuliakanku dengan memeluk agama Islam, memakaikanku mahkota Islam dan menunjukkanku dengan mahkota petunjuk-Mu, maka dengan kemuliaan agama yang telah Engkau berikan rizki, dengan kemuliaan hari ini yang penuh berkah dan keluhuran yang telah Engkau takdirkan untuknya, yaitu hari Jumat, saya memohon kepadamu untuk mengangkat kesibukan hati keluarga terhadap nafkah dan berilah saya rizki yang tidak disangka-sangka. Demi Allah, sesungguhnya saya malu terhadap keluargaku dan saya khawatir kepada mereka dari berubahnya keimanan mereka yang masih seumur jagung.

Setelah selesai berdoa, lalu ia bangun dan menyibukkan diri dengan menunaikan shalat dua rakaat. Ketika matahari telah meninggi, laki-laki itu pergi hendak menunaikan shalat jumat namun kelaparan anak-anaknya telah memburuk, tiba-tiba datang seorang laki-laki dan mengetuk pintu rumah mereka, lalu istrinya membukakan pintu dan ia sempat terperanjat melihat laki-laki yang gagah dan ditangannya ada sebuah sapu tangan emas yang di dalamnya terdapat kotak dari emas dan laki-laki itu berkata “ambillah kotak ini dan katakan pada suami anda bahwa ini adalah upah pekerjaannya selama dua hari dan tambahkan pekerjaannya maka kami akan menambahkan upahnya dengan upah yang khusus pada hari ini, yakni hari jumat, sesungguhnya pekerjaan kecil pada hari ini, baginya sangatlah besar. Maka istrinya mengambil kotak itu dan ternyata di dalamnya terdapat uang seribu dinar dan ia mengambil satu dinar untuk berbelanja. Ketika itu  penjualnya adalah orang nasrani, kemudian ia menimbangnya dan tiba-tiba beratnya bertambah menjadi dua kali lipat. Ia melihat dari ukirannya, ia mengetahui bahwa dinar itu adalah hadiah dari akhirat, lalu ia menanyakan hal itu kepada perempuan itu, dari mana anda mendapatkan dinar ini?

Amalan yang Mendekatkan ke Surga dan menjauhkan dari Neraka

para pembaca yang budiman, kali ini mari kita lanjutkan i’tibar kita melalui kisah-kisah orang-orang shalih tedahulu, semoga kita dapat memetik pelajaran yang berharga dari kisah itu agar dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaaan kita. lanjut…….

Dalam hadits yang keempat yang diriwayatkan oleh Abi Dzar al-Ghifari r.a. bahwa ia bertanya kepada Nabi Muhammad SAW, “Ya Rasulullah, ajarilah saya amalan yang dapat mendekatkan diri ke Surga dan menjauhkan saya dari neraka,” kemudian Nabi bersabda “jikalau engkau telah berbuat kejelakan, ikutilah kejelekan itu dengan kebaikan.” Sahabat Abu Dzar bertanya lagi “perbuatan apakah yang termasuk kebaikan?” lalu Nabi menjawab “perbuatan baik itu ialah mengucapkan laa ilaaha ill Allah, lalu shabat Abu Dzar menguatkan hatinya “betul ya Rasul, itu adalah sebagus-bagusnya kebaikan.”

Terkait dengan hadits diatas, ada sebuah kisah yang menceritakan seorang pemuda yang sedang berdiri di Arafah dan ditangannya ada 7 buah batu. Orang-orang telah menyaksikan saya di hadapan Allah SWT bahwa saya telah besyahadat اشهد ان لااله الا الله وان محمد رسول الله, kemudian ia tidur dan bermimpi melihat selah-olah adalah nyata seperti kiamat telah datang, dia telah dihisab dan dia termasuk ahli neraka. Kemudian para malaikat membawanya dan mengantar ke pintu neraka, ketika itu sudah ada sebuah batu di depan pintu neraka yang menemui dirinya.

Kemudian para malaikat Adzab berkumpul untuk membawa pemuda itu ke pintu neraka, namun di tiap-tiap pintu neraka telah ada batu-batu yang lain dari ketujuh batu tadi, dan para malaikat tidak mampu lagi membawanya. Lalu para malaikat membawanya ke bawah ‘Arsy dan bermunajat kepada Allah, “Ya robb, Engkau lebih mengetahui perkara hamba-Mu dan saya tidak menemukan jalan untuk membawanya ke neraka,” kemudian Allah berfirman, “Aku telah memberkahi hamba-Ku dan batu-batu itu, bagaimana Aku menghilangkan hakmu sedangkan Aku menyaksikan Syahadatmu,” selanjutnya Allah memerintahkan para malaikat untuk memasukkannya ke dalam surga, namun ketika di pintu surga, pintu surga masih terkunci, kemudian datanglah kesaksiannya (syahadatnya) lalu terbukalah pintu surga dan masuklah pemuda itu.

Dalam kisah lain diceritakan oleh Imam az-Zahid Sayyid al Mufti dari ayahnya Al-Mufti, ia berkata bahwa Nabi Musa a.s. telah bermunajat kepada Allah SWT “Ya Robb, Engkau telah menciptakan makhluk, memeliharanya dengan nikmat-Mu, memberinya rizki, dan pada hari kiamat Engkau memasukkannya ke dalam neraka-Mu. Kemudian Allah SWT memerintahkan kepada Musa a.s. untuk memelihara sebuah ladang, menanaminya dan menyiraminya, kemudian Musa a.s. menjalankannya sampai panen, lalu Allah SWT bertanya kepada Musa a.s. “Apa yang telah kau perbuat terhadap ladangmu?” Musa a.s. menjawab “ saya telah menyimpannya,.”

Kemudian Allah SWT bertanya kepada Musa a.s. “ wahai musa apa yang kau sisakan dari ladangmu yang telah kau panen?” Musa a.s. menjawab “Ya Robb, saya tidak meninggalkan apapun kecuali harta yang baik, Allah pun berfirman “Aku memasukkan ke neraka orang-orang yang tidak ada kebaikan bagi dirinya,” kemudian Musa a.s bertanya “siapakah dia ya Robb?” Allah SWT menjawab “ia adalah orang yang mencegah dirinya/enggan untuk mengucapkan laa ilaaha illa Allah Muhammad rasulullah.”

Keutamaan Ilmu

Dikisahkan oleh Ibrahim dari ‘Ilqimah dari Abdulloh bin Mas’ud r.a. ia berkata: bahwa rasululloh SAW bersabda: “Barang siapa belajar satu bab dari ilmu yang bermanfaat di dunia dan di akhirat, maka Allah akan menganugerahkan baginya kebaikan tujuh ribu tahun yang siang harinya untuk berpuasa dan malam harinya untuk qiyamul lail yang pasti diterima dan tertolak.

Diriwayatkan pula dari Ibrahim bin ‘Ilqimah dair Abdulloh r.a. ia berkata: bahwa Rasululloh SAW bersabda: “Membaca al-Qur’an merupakan amalan-amalan orang yang merasa cukup, shalat merupakan amalan-amalan orang yang lemah, puasa merpakan amalan-amalan orang faqir, membaca tasbih merupakan amalan-amalan wanita, shodaqoh merupakan amalan-amalan orang yang dermawan, tafakkur merupakan amalan-amalan orang dhu’afa, apakah saya tidak menunjukkan kepadamu amal-amal yang utama? Kemudian Rasululloh ditanya: apakah amalan-amalan yang utama itu wahai Rasulullah? Kemudian Rasulullah menjawab: “amalan-amalan yang utama itu ialah mencari ilmu, sesungguhnya ilmu itu ialah nuur al mu’min (cahayanya orang mukmin) di dunia dan di akhirat”. Lalu Rasulullah bersabda: “saya adalah kotanya ilmu dan Ali r.a. adalah kuncinya”.

Ketika orang-orang khawarij mendengar hadits ini, mereka menghasud sahabat Ali r.a. maka sepuluh orang dari pembesar mereka berkumpul dan berkata: sesungguhnya kami akan menanyakan kepada Ali r.a. satu masalah dan kita lihat bagaiaman ia menjawab, jikalau ia menjawab satu pertanyaan dari kita satu persatu dengan jawaban yang berbeda, maka kita tahu bahwa ia adalah seorang yang alim sebagaimana yang diungkapkan oleh Nabi.


Maka datanglah salah satu dari mereka dan berkata: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali r.a. menjawab: “ilmu lebih utama dari pada harta”, kemudian ia bertanya lagi, dengan dasar apa? Ali Menjawab: Ilmu adalah warisan para nabi, sedangkana harta adalah warisan Qarun, Syadad, Fir’aun dan lainnya. Kemudian ia pergi dan datang yang lainnya lagi lalu ia bertanya seperti pertanyaan yang diajukan oleh orang pertama dari kaum khawarij, dan Ali r.a. menjawab: ilmu lebih utama dari pada harta”. Lalu Ali ditanya lagi, “dengan dasar apa?”, Ali menjawab: “Ilmu akan menjagamu sedangkan harta kau yang menjaganya”. Lalu ia pergi.

Setelah dua orang mendapatkan jawaban yang berbeda, datanglah orang ketiga bertanya dan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa?” Ali menjawab: “bagi  si pemilik harta memiliki musuh yang banyak, sedangkan si pemilik ilmu memiliki teman yang banyak”. Kemudian ia pun pergi dengan jawaban yang berbeda lagi.

Datanglah orang yang keempat bertanya pula dengan pertanyaan yang sama dan Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”,lalu ia bertanya lagi “dengan dasar apa wahai Ali?” Ali r.a. menjawab “jika kau membelanjakan harta maka ia akan berkurang, sedangkan jikau kau membelanjakan ilmu, maka ia akan bertambah”. Lalu orang yang keempat inipun pergi dengan membawa jawaban yang berbeda.

Orang yang kelima datang pula dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”. Kemudian Ali ditanya lagi, “Dengan dasar apa bahwa Ilmu lebih utama dari pada harta?” lalu Ali menjawab: “Si pemilik harta memiliki nama panggilan Bakhil dan medit, sedangkan Si pemilik ilmu memiliki nama panggilan kemuliaah dan keluhuran”. Lalu orang yagn kelima ini pun pergi membawa jawaban yang berbeda pula.

Kemudian datanglah orang yang keenam dan bertanya: “Wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali r.a. menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, dan orang itu melanjutkan pertanyaannya lagi, “dengan dasar apa?”, Ali r.a. menjawab dengan tegas, “harta, kau akan menjaganya dari pencuri, sedangkan ilmu, kau tidak menjaganya dari pencuri”. Orang yang keenam ini pun pergi pula dengan jawaban berbeda.

Lalu datanglah orang yang ketujuh dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa? Ali menjawab: “harta akan habis ditelan lamanya waktu dan berjalannya waktu sedangkan ilmu tidak akan lenyap dan habis”. Lalu orang yang ketujuh ini pun pergi.

Datang orang yang ke delapan dan bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Kemudian Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, “dengan dasar apa? Ali menjawab: “ilmu akan membuatmu dihisab di hari kiamat kelak dan ilmu akan memberi syafa’at kepada si Pemiliknya”.

Datang lagi orang yang kesembilan dan ia bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” Ali menjawab: “ilmu lebih utama dari pada harta”, lalu Ali r.a. ditanya lagi: “dengan dasar apa?”,  Ali r.a. menjawab lagi: “Harta akan membuat hatimu keras sedangkan ilmu akan menyinari hatimu”. Lalu ia juga pergi.

Orang yang kesepuluh turut andil bertanya: “wahai Ali, manakah yang lebih utama antara ilmu dan harta?” dan sahabat Ali menjawab: “Ilmu lebih utama dari pada harta”, ia bertanya lagi, “Dengan dasar apa?” lalu Ali r.a. menjawab: “bagi si pemilik ilmu ia akan disebut orang yang ahli ibadah, sedangkan si pemilik harta akan disebut Tuhan disebabkan karena hartanya.

Kemudian setelah orang yang kesepuluh, yakni orang yang terakhir dari para pembesar khawarij, sahabat Ali berkata lagi: jikalau mereka bertanya kepadaku tentang masalah ini, pasti saya akan menjawab denga n jawaban yang berbeda selama saya masih hidup. Kemudian sepuluh para pembesar khawarij itu pasrah dan menyerah semuanya.