Kategori: Artikele Inyong

Air Axygo Menjaga Kesehatan, Mencegah dan Mengatasi Penyakit

Air Axygo Menjaga Kesehatan, Mencegah dan Mengatasi Penyakit. Setiap hari kita membutuhkan air untuk minum. Tetapi berapa banyak diantara kita yang peduli terhadap apa yang kita minum. Tidak disadari oleh kita ketika minum, apakah air yang kita minum akan menyehatkan kita, atau malah akan membuat kita sakit. Tubuh kita terdiri dari 70% air, maka air memiliki peranan yang sangat penting untuk menjaga kesehatan, dimana 70% kesehatan kita ditentukan oleh kualitas air yang kita minum. Menurut standar WHO, air minum yang layak dikonsumsi memiliki kadar TDS <10 ppm (parts per million). AXYGO adalah air minum yang diolah menggunakan teknologi canggih sehingga mampu menghasilkan air minum dengan kandungan mineral an-organikyang rendah. Umumnya air mengandung oksigen antara 4 – 6 ppm.

Air memegang peranan utama dalam siklus metabolisme tubuh manusia, yang antara lain adalah :

  • Menjaga keseimbangan suhu tubuh
    Menjaga tubuh dari kondisi dehidrasi (kekurangan cairan)
    Memperlancar proses pencernaan
  • Melancarkan proses peredaran darah
  • Membantu melancarkan proses pernapasan
  • Sebagai pelumas persendian dan oto
  • Dapat melarutkan sisa sisa zat kimia yang ada dalam tubuh untuk kemudian ikut terbuang dengan kotoran manusia.

Mengapa Air AXYGO begitu ampuh dalam menjaga homeostatis, bahkan mampu mencegah dan mengatasi penyakit?

  1. Air axygo memiliki struktur kecil dan daya larut yang kuat.sehingga makanan dan nutrisi seperti karbohidrat,protein,lemak,dan vitamin terlarut lebih maksimal. Selanjutnya,usus lebih banyak menyerapnya sehingga sel-sel tubuh mendapat pasokan nutrisi lebih optimal sesuai kebutuhannya.
  2. Metabolisme sel berlangsung sempurna,karena metabolisme didalam sel sangat dipengaruhi oleh air.Sel membutuhkan berbagai zat gizi,oksigen dan enzim bagi aktivitas metabolismenya.Air axygo pemasok yang paling ideal. Air axogy mudah melarutkan berbagai senyawa,membawanya masuk ke dalam sel untuk selanjutnya dimanfaatkan oleh sel-sel tubuh.Sel tubuh pun menjadi sehat dan mendapatkan reaksi tubuh benar-benar bugar dan energi.
  3. Air axygo mampu membuang zat sampah yg bersifat TOKSIN lebih optimal.Pengawet dan pewarna makanan,obat-obatan serta antibiotic merupakan senyawa yang bersifat toksin,begitu pula aktivitas metabolisme sel akan menghasilkan sampah. Air axygo penetralisir yang sangat sempurna sehingga lingkungan dalam sel-sel tersebut menjadi bersih dan sehat.
  4. Air axygo adalah sebagai air terapi. Menurut Dr.Robert O.Dunnel dalam bukunya berjudul “tips sembuhkan 365 macam penyakit”, selalu menganjurkan untuk minum air putih,tentu saja air yang berkualitas baik

Minum selalu Air Minum ber – Oksigen merek AXYGO, lupakan merek air minum kemasan yang lain di pasaran. Seluruh keluarga anda pasti senang dengan manfaat air minum ini karena Air Axygo Menjaga Kesehatan, Mencegah dan Mengatasi Penyakit.

sumber; https://air-axygo.blogspot.com/2017/02/air-axygo-menjaga-kesehatan-mencegah.html

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter dalam Pemikiran KH Wahid Hasyim

wahid hasyim

Bagi orang-orang yang selalu berkecimpung dalam Kementerian Agama, pasti nama KH Abdul Wahid Hasyim sudah tidak lagi asing di dengar. Dia merupakan Menteri Agama pertama saat Indonesia menganut sistem pemerintahan Serikat (Republik Indonesia Serikat), sekaligus menjabat sebagai Menteri Agama dalam tiga kabinet yakni Kabinet Hatta, Natsir, Sukiman (1949-1952). Tahun-tahun tersebut merupakan pencarian jati diri bangsa Indonesia dalam segala aspeknya termasuk bidang pendidikan agama. Pada saat itu KH Abdul Wahid Hasyim tampil sebagai konseptor ulung pendidikan agama, dan sampai kini pemikirannya masih relevan bahkan berusaha untuk dikembangkan. Disini penulis mengungkap pemikiran pendidikan karakter KH Abdul Wahid Hasyim berdasarkan dari hasil penelitian penulis.<>

Mengenal Wahid Hasyim

Abdul Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam pendidikan di bangku sekolah pemerintahan Hindia Belanda. Dia lebih banyak belajar secara autodidak. Abdul Wahid Hasyim berotak cerdas. Saat berusia 5 tahun, ia belajar membaca al-Qur’an pada ayahnya (Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari) di Madrasah Salafiah Tebuireng.

Mulai usia 13 tahun, ia berkelana di berbagai pondok pesantren seperti pesantren diantaranya adalah Panji, dan Liboyo. Namun saat dia mondok selalu dalam waktu yang singkat, dan berpindah-pindah. Dengan berpindah-pindah pondok hanya dalam hitungan hari itu, dia seperti hanya berkepentingan dengan keberkahan guru, dan bukan pada ilmunya.

Sepulang dari Lirboyo, KH Abdul Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di Pesantren lain, tetapi tinggal di rumah.

Tahun 1932 saat usianya 18 tahun, Wahid Hasyim dikirimkan ke Makkah. Disamping untuk menunaikan ibadah haji, juga untuk memperdalam berbagai cabang ilmu agama. Kepergiannya ini ditemani oleh saudara sepupunya, Muchammad Ilyas. Di tanah suci Makkah, ia belajar selama dua tahun.

Sepulang dari Makkah, Wahid Hasyim mulai meniti karir sebagai seorang ulama, yakni menjadi staf pengajar di Tebuireng. Dia ditunjuk sebagai asisten ayahnya yang tugasnya adalah menjaga kesinambungan proses belajar mengajar, menjawab surat-surat yang berkaitan dengan fiqih yang ditujukan kepada ayahnya dan mendatangi pengajian atau ceramah. Dia juga mendirikan Madrasah Nizamiyah, sebuah prototype pesantren modern.

KH Abdul Wahid Hasyim menjadi Menteri Agama tiga periode, yaitu dalam Kabinet Hatta (20 Desember 1949 – 6 Desember 1950), Kabinet Natsir (6 September 1950 – 27 April 1951), dan Kabinet Sukiman (27 April 1951 – 3 April 1952), dia mengeluarkan tiga buah keputusan yang pada tahun-tahun selanjutnya mempengaruhi sistem Pendidikan di Indonesia. Dalam waktu enam bulan setelah menjabat Menteri Agama, dia mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di hampir setiap karesidenan, Sekolah Guru dan Hakim Agama Negeri (SGHAN) di Yogyakarta, Bukittinggi, Bandung dan Malang, serta mendirikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta.

Pemikiran Pendidikan Karakter

Terdapat delapan nilai-nilai Pendidikan Karakter dalam pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim, yakni: Religius, Toleransi, Madiri, Demokratis, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Bersahabat/Komunikatif, Gemar Membaca.

Pendekatan pendidikan karakter yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim menggunakan pendekatan penanaman nilai, sejalan dengan yang dijelaskan oleh Muslich, pendekatan penanaman nilai berusaha memberikan penekanan pada penanaman nilai-nilai sosial dalam diri anak didik. Seperti apa yang dilakukan oleh KH Abdul Wahid Hasyim yang berusaha memberikan teladan kepada anak didiknya. Strategi yang digunakan oleh KH Abdul Wahid Hasyim dalam menanamkan nilai pendidikan karakter adalah menggunakan strategi keteladanan nilai.

Dalam berbagai pemikirannya tentang Pendidikan KH Abdul Wahid Hasyim menanamkan nilai-nilai sosial seperti toleransi, demokratis, bersahabat/ komunikatif sebagai acuan dalam bertingkah laku dalam berinteraksi dengan sesama. Dengan nilai-nilai sosial yang diajarkan oleh KH Abdul Wahid Hasyim dia ingin menyampaikan pesan bahwa sesungguhnya manusia adalah bersaudara satu sama lain. Nilai persaudaraan ini oleh KH Abdul Wahid Hasyim merupakan kunci bagaimana manusia harus berhubungan apakah itu kepada antar negara, atau kepada orang yang terdiri dari berbagai latar belakang bahkan pada orang yang berprofesi dibawahnya. Dia juga menyadari bahwa bangsa Indonesia adalah bangsa yang multikultural. Disamping itu dia memberikan teladan agar belaku baik kepada siapa saja meskipun kepada anak buahnya. Shal ini diungkapkan oleh anaknya yang bernama Aisyah Hamid Baidlowi, KH Abdul Wahid Hasyim bila menyapa sopirnya dia memanggil dengan nama Bang Usman. Selain itu dalam hubungan sosial KH Abdul Wahid Hasyim menekankan sikap toleransi. Sikap toleransi ini merupakan sikap menghormati orang yang berkeyakinan (agama) tidak sama. Seperti yang ada dalam tulisannya untuk menyambut berdirinya Universitas Sumater Utara. Dia menghargai bahwa dalam pendirian Perguruan Tinggi Islam ada tenaga pengajar dan pelajarnya yang berlainan agama. Menghadapi kondisi tersebut dia menekankan sikap toleransi, bahkan dia memberikan apresiasi. Apa yang menjadi pemikiran KH. Abdul Wahid Hasyim tersebut tertuang dalam tujuan Pendidikan Karakter yang berusaha membangun kehidupan kebangsaan yang multikultural.

KH Abdul Wahid Hasyim juga mengajarkan karakter berkewarganegaraan. Dalam karakter berkewarganegaraan dia menekankan nilai-nilai semangat kebangsaan dan cinta tanah air. Dengan nilai tersebut, bagi KH Abdul Wahid Hasyim merupakan cara untuk memajukan bangsa. Untuk menempatkan karakter cinta tanah air, dia menanamkan karakter yang paling ringan yakni cinta terhadap bahasa. Sehingga KH Abdul Wahid Hasyim berkesimpulan kemajuan bahasa adalah kemajuan bangsa. Bagaimana tidak, dia mencontohkan Hitler dan Chamberlain ketika bernegoisasi menggunakan bahasa negara mereka masing-masing meskipun keduanya sama-sama menguasai bahasa lawannya. Dengan mencintai bahasa merupakan bukti kita mencintai tanah air kita. Semangat kebangsaan dia tunjukkan tatkala mengedepankan kepentingan bangsa dari pada pendapat pribadinya dalam sidang BPUPKI. Dia menyetujui untuk mengamandemen tujuh kata yang diperdebatkan dalam sidang tersebut. Kata yang diamandemen tersebut adalah “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.” Apa yang menjadi pemikiran KH Abdul Wahid Hasyim ini juga terdapat dalam rumusan tujuan Pendidikan Karakter pada poin membangun sikap warganegara yang mencintai damai, kreatif, mandiri, dan mampu hidup berdampingan dengan bangsa lain dalam suatu harmoni.

Selain karakter sosial dan berkewarganegaraan KH Abdul Wahid Hasyim juga mengajarkan karakter pengembangan diri. Karakter tersebut adalah mandiri, dan gemar membaca. Dengan karakter mandiri bagi KH Abdul Wahid Hasyim anak didik mampu menghadapi pekerjaan yang sulit pada akhirnya tidak mudah minta bantuan terhadap orang lain. Mengenai karakter gemar membaca merupakan wujud dari karakter cinta pada ilmu pengetahuan. Penanaman karakter ini dia contohkan ketika menjadi Kepala Madrasah Nizamiyah. Dia membangun perpustakaan dan berlangganan surat kabar dari berbagai terbitan. Mengenai nilai karakter pengembangan diri tersebut relevan dengan apa yang menjadi tujuan Pendidikan Karakter membangun peradaban bangsa yang cerdas, berbudaya luhur, dan mempu berkontribusi terhadap pengembangan kehidupan ummat manusia, mengembangkan potensi dasar agar berhati baik, berpikiran baik, dan berperilaku baik serta keteladanan baik.

Nilai karakter terakhir yang ditanamkan oleh KH Abdul Wahid Hasyim adalah religius. Nilai religius ini merupakan nilai yang menjadi landasannya dalam bersikap. Dalam berbagai tulisan dan pemikirannya, KH Abdul Wahid Hasyim selalu mengkaitkan dengan keagamaan (Islam). Posisinya sebagai ulama mempertegasnya nilai karakter religius tersebut. Nilai ini sejalan dengan yang disampaikan oleh Sudrajat bahwa Pendidikan karakter  adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik, mengandung komponen pengetahuan, kesadaran individu, tekat, serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa, sehingga akan terwujud insan kamil.

Sumber: http://www.nu.or.id/post/read/37747/nilai-nilai-pendidikan-karakter-dalam-pemikiran-kh-wahid-hasyim

MUTIARA NEGERI TIMUR

di Pada suatu pagi seperti biasa kegiatan di sekolah, seluruh siswa datang lima belas menit sebelum bel dan bersiap-siap di depan kelas untuk berbaris memasuki kelas masing-masing. Mereka berjabat tangan dan cium tangan kepada guru pada jam pertama, meskipun diantara mereka ada saja yang masih datang terlambat sehingga harus datang ke kantor atau menghadap ke guru piket untuk meminta surat ijin agar bisa masuk kelas.

Lain kisah pada sebuah sekolah,

Pada suatu pagi, sekelompok siswa datang ke sekolah naik motor, setelah tiba di sekitar lingkungan sekolah, mereka tongkrongan dulu di belakang masjid sembari menunggu bel jam tujuh berdering. Salah seorang siswa berbekal sebotol air minum Bicola. Mereka saling berceloteh, becengkarama dan bercanda tawa hingga salah seoang siswa yang lain merasa dahaga dan meminum sebotol air bekal yang dibawa oleh temannya.

Ia tidak tahu menahu apa yang ada dalam botol bicola tersebut. Ia hanya tahu kalau itu adalah minuman bicola. Namun setelah diminum ternyata minuman jenis minuman keras. Seketika ia pusing, urat bola matanya memerah dan mabuk. Terdengar bel jam tujuh berbunyi tanda masuk sekolah. Sekolah yang menjadwalkan kegiatan pagi dengan tadarusan/setoran juz amma untuk kelas tujuh dan delapan dan shalat dhuha berjamaah untuk kelas Sembilan. Maka ia segera masuk masjid dan mengikuti shalat dhuha berjamaah.

Anda dapat melihat fenomena lama seperti sepenggal kisah di atas. Sebuah kisah, seperti kisah di atas bukanlah kisah baru di dunia pendidikan. Namun telah berakarurat di dalam jiwa yang tertanam budaya ketimuran, sebut Indonesia. Dunia pendidikan dengan budaya “jabat tangan” meniscayakan sebuah penghormatan atas diri seorang murid kepada guru. Sedangkan “cium tangan” merupakan bentuk penghargaan atas harga seorang murid kepada guru.

Jauh sebelum pendidikan modern membahana di negeri ini, jauh di pelosok-pelosok negeri telah menanamkan budaya yang begitu indah dan harum terasa di lembah manah masyarakat, khususnya jawa.

Budaya “jabat tangan” dan “cium tangan” membekali para pelaku budaya untuk bertindak tunduk dan patuh. Pemaknaan terhadap kedua budaya tersebut dapat dilihat dari berbagai perspektif. Perspektif ini dapat dipengaruhi landasan berpikir yang dimiliki seseorang. Perspektif ini pula yang dapat menimbulkan sebuah budaya baru. Cium tangan dipandang dari sisi psikologi/jiwa mengandung maksud melatih berbagai ketundukpatuhan kepada yang lebih tua, yang berilmu dan berderajat.

Rupa-rupanya modernitas dalam dunia pendidikan telah berhasil masuk dan menjadi jiwa pembentuk dunia pendidikan saat ini. Jiwa pembentuk itu sendiri ialah pembentuk terhadap diri yang memiliki pendidikan atau kehidupan. Sementara, modernitas cenderung condong kepada sebuah kekayaan, kecantikan dan jabatan. Tidak bagi seorang siswa juga tidak bagi seorang guru, semua telah benar-benar menjiwai modernitas dengan ciri-ciri kepada kebendaan dan keduniawian, sehingga benar-benar jauh dan semakin menjauh dari nilai pendidikan itu sendiri yang berupaya mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya dan mampu memanusiakan manusia.

Inilah esensi yang sebenarnya ingin diraih oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan format kurikulum yang hampir tiap tahun ganti dan ternyata masih tetap berujung tombak pada nilai pendidikan dengan makna hakikinya, yang tidak lain dapat diraih dengan jiwa terdidik dan pendidik sejati melalui pendidikan hati/jiwa, sikap.

Pendidikan hati atau jiwa disini tidak secara terperinci saya bahas. Wilayah jiwa atau hati menurut penulis dapat menjadi wilayah yang bertransenden jauh dan paling dekat. Bermakna jauh, mengandung pengertian bahwa nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan justru hanya menjadi bungkus saja, namun aplikasinya melenceng dari substansinya. Sedangkan bermakna dekat, karena memang itu wilayah garapan yang sesungguhnya bagi dunia pendidikan yang tersimpan, terbekali dan bersemayam dalam diri manusia. Inilah yang menjadi pembeda. Manusia makhluk paling unik dan sempurna.

Nilai-nilai makna dalam praktik-praktik pendidikan dikemas dengan rapi dan berlabelkan modernitas, berbahasa Inggris, berteknologi tinggi dan paling mahal. Makna pendidikan yang inilah yang menjadi idola putra-putri bangsa saat ini. Namun arahan dan nasehat orang tua dengan keseimbangan perolehan ilmu duniawi dan ukhrowi tidak digople sama sekali dan dianggap kuno; ketinggalan jaman dan orang yang masih berpaham demikian dianggap primitif.

Hal inilah yang kemudian tercerminkan dalam sepenggal kisah yang kedua diatas. Budaya tongkrongan menjadi budaya menarik dan banyak diminati siswa sehingga sangat mungkin berbagai pengaruh-pengaruh negative menjalar dalam otak mereka. Perbuatan demikian terus dilakukan setiap hari, sehingga karakter yang terbentuk ialah karakter pemalas, perokok dan pemalak bila mereka tidak memiliki uang untuk membeli rokok yang kesemuanya itu hanya ingin mendapatkan segala sesuatu serba instan.

Budaya sebagai hasil pemikiran adalah sebuah daya yang dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang tersimpan di dalam memorinya. Sedangkan pengalaman ialah rekaman yang dimiliki oleh orang yang mengalami, melakukan dan berbuat sesuatu. Sehingga buah pemikiran diluar itu semua bukanlah pengalaman. Oleh karenanya sangat bijak dan pantas manakala pendidikan adalah scenario pengalaman bagi siswa, karena dari scenario itu akan terjadi tindakan atau perbuatan yang darinya dengan segala aspek dan daya dukung insaniyahnya, memori otak manusia akan merekam segala kejadian dan perbuatan yang dilakukan.

Sedangkan pengalaman sangat dipengaruhi konsep hukum, yaitu baik-buruk, halal-haram, makruh-mubah dan konsep seni yaitu, indah-jelek, cantik jelek. Semuanya berkoridor pada haluan-haluan daya pikir manusia. Sehingga pada tahap ini, manusia terbelenggu pada sebuah keterbatasan alam jasmaniahnya.

Kalau dipikirkan dengan hati nurani lebih mendalam, semua scenario hanyalah daya rasa, daya cipta, daya karya yang dimiliki manusia. Bila manusia meninggalkan hati nuraninya dan hanya mengunggulkan daya pikirnya yang hanya dan selalu terpetak pada akal insaniyahnya, maka belenggu itu semakin kuat membatasi daya-daya itu sendiri, sehingga manusia tidak akan mampu menembus alam ilahiyahnya yaitu Sang Khalik yang Maha Tidak Terbatas. Meskpun yang demikian dalam alam pikir manusia adalah hal yang mustahil, namun ketika insaniyahnya merambah pada alam ilahiyahnya dengan tingkat kepasrahan pada Sang pembuat scenario, maka ia benar-benar telah masuk ke dalam ilahiyah-nya.

AKHLAK MULIA KE-INDONESIA-AN

Meruntut sejarah Indonesia dan disandingkan dengan sejarah masuknya agama Islam sarat dengan esensi budaya nilai yang telah tertanam dalam sanubari penduduk nusantara. Asing dari perilaku kekerasan, ketidakadilan dan identik dengan kelemahlembutan dan suka damai.

Seiring masuknya Islam di nusantara, seiring itu pula bahwa nusantara merupakan wilayah garapan Islam dalam menyempurnakan akhlak manusia sesuai ajaran Islam. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa nusantara, jawa khususnya tidak sesuai dengan akhlak keIslaman, justru di tanah jawa inilah, ajaran-ajaran Islam banyak terdeskripsikan dalam kehidupan sehari-harinya, namun secara visi Islam, yaitu menegakkan ketauhidan, jawa menjadi pusat Islam nusantara.

Islam sebagai formulasi sempurna beragama, bertauhid dan bersosialisasi bahkan dalam segala aspek kehidupan manusianya, sebagian besar sudah termanivestasikan dalam perilaku asli jawawiyun (orang jawa, read). Formulasi Islam yang mengandung visi, menegakkan tauhid dan misi menyempurnakan akhlak manusia, sangat perlu direformulasi kembali agar dapat diterima oleh jawawiyun. Langkah inilah yang telah diambil salah satu Sunan, dari Sunan Wali sanga, Raden Mas Said (Sunan Kali Jaga) dengan ciri khas baju hitamnya, teguh pendirian namun lembut dan santun dalam bergaul, sehingga mampu menaklukkan hati masyarakat jawa, merangkul mereka untuk memeluk sumber pokok dan nilai kehidupan sesungguhnya, Islam.

Di abad 21, modern saat ini banyak bermunculan para ulama dengan pemikiran yang berkembang dan maju mengikuti perkembangan berbagai aspek kehidupan. Tokoh ulama besar inilah yang kemudian menjadi pelopor gerakan organisasi yang mempunyai ciri khas keislaman jawa. Muslim yang njawani atau jawa yang Islami (Muslimun jawawiyun atau muslimun arabiyun)

AJARAN AGAMA DAN KEARIFAN LOKAL

Agama sering kali dimaknai dengan ritual-ritual ibadah sehari-hari yang mengandung sekumpulan tata aturan yang mengatur ketertiban dan kedisiplinannya dalam pelaksanaannya. Agama, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan yang Mahakuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu

Agama, dimiliki oleh manusia, maka ia menjadi beragama. Manusia beragama memiliki pandangan ke”langit”an saja tentang kemuliaannya di mata Tuhannya. Pandangan hidup ke”makhluk”an dapat pula mengangkat manusia memasuki alam langit. Kehidupan tidak hanya menyaratkan suatu hubungan antara manusia sebagai makhluk dan tuhan sebagai khalik. Namun, agama memberikan tata aturan kehidupan dalam bergaul sesama manusia dan sesama makhluk.

…….bersambung

PUASA DAN FADHILAHNYA

Pengertian

Puasa secara bahasa berarti: Menahan. Menurut istilah syara’  berarti menahan diri  dari sesuatu perkara yang membatalkan puasa, mulai terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat tertentu.

Dasar Wajib Puasa

Maksud Firman Allah Ta’ala: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa” (Al Baqarah: 183)

Hikmah Puasa

Antara lain, menahan hawa nafsu, mengurangi syahwat, memberikan pelajaran bagi orang kaya untuk merasakan lapar sehingga menumbuhkan rasa kasih sayang kepada fakir miskin dan menjaga dari maksiat.

Syarat Sah Puasa:

  1. Islam
  2. Berakal
  3. Bersih dari haid/ nifas
  4. Mengetahui waktu diperbolehkan untuk berpuasa

Tidak Sah puasa bagi orang kafir, orang gila walau pun sebentar, perempuan haid atau nifas dan puasa pada waktu yang diharamkan berpuasa, seperti hari raya atau hari tasyriq. Adapun perempuan yang terputus haid atau nifasnya sebelum fajar, maka puasanya tetap Sah dengan syarat telah niat, sekali pun belum mandi sampai pagi.

Syarat Wajib Puasa:

  • Islam: Puasa tidak wajib bagi orang kafir dalam hukum dunia, namun di akhirat mereka tetap akan diadzab karena kekafirannya. Adapun orang murtad, maka  wajib baginya mengqodho’ apabila ia kembali masuk Islam.
  • Mukallaf (baligh dan berakal): Anak yang belum baligh tidak wajib puasa, namun orang tua wajib memerintahkan putra-putrinya berpuasa sejak kecil (7 tahun) dan memukul (sewajarnya) jika meninggalkan puasa saat berumur 10 tahun.
  • Mampu mengerjakan puasa (bukan orang lansia atau orang sakit): Lansia yang tidak mampu berpuasa atau orang sakit yang tidak ada harapan untuk sembuh menurut medis wajib mengganti puasanya dengan membayar fidyah yaitu satu mud (sekitar 6,25 ons) makanan pokok (beras) untuk setiap harinya.
  • Mukim: Tidak wajib bagi Musafir selama ia bepergian sejauh lebih dari 82 km, keluar dari batas kotanya sebelum fajar dan menetap di kota tujuan tidak lebih dari 4 hari.

Rukun-rukun Puasa:

  1. Niat: (untuk puasa wajib maupun sunnah), mulai terbenamnya matahari hingga sebelum terbitnya fajar.

Niat (talaffud) puasa Ramadhan:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ اَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هَذِهِ السَّنَةِ ِللهِ تَعَالَى

“SAYA NIAT MENGERJAKAN KEWAJIBAN PUASA BULAN RAMADHAN ESOK HARI PADA TAHUN INI KARENA ALLAH TA’ALA”.

Niat hendaknya dilakukan setiap malam hari selama bulan Ramadhan. Niat (rukun) dilakukan di dalam hati, tanpa niat (dalam hati) puasanya tidak Sah. Adapun mengucapkan/ talaffud adalah sunnah.

  1. Menghindari perkara yang membatalkan puasa, kecuali jika lupa atau dipaksa atau karena kebodohan yang ditolerir oleh syari’at (jahil ma’dzur).

Jahil ma’dzur/ kebodohan yang ditolerir syari’at ada dua:

  • a.  Hidup jauh dari ulama
  • b.  Baru masuk Islam

Hal-hal yang Membatalkan Puasa:

  1. Masuknya sesuatu ke dalam rongga terbuka yang tembus ke dalam tubuh seperti mulut, hidung, telinga dan dua lubang qubul-dubur dengan disengaja, mengetahui keharamannya dan atas kehendak sendiri. Namun jika dalam keadaan lupa, tidak mengetahui keharamannya karena bodoh yang ditolerir atau karena dipaksa, maka puasanya tetap Sah.
  2. Murtad, yakni keluar dari Islam, baik dengan niat dalam hati, perkataan, perbuatan, walau pun perbuatan murtad tersebut sekejap saja.
  3. Haid, nifas dan melahirkan sekali pun sebentar.
  4. Gila meski pun sebentar.
  5. Pingsan dan mabuk (tidak disengaja) sehari penuh. Jika masih ada kesadaran sekali pun sebentar, puasanya tetap Sah.
  6. Bersetubuh dengan sengaja dan mengetahui keharamannya.
  7. Mengeluarkan mani, baik dengan tangan, atau tangan istrinya, atau dengan berhayal, atau dengan melihat (jika dengan berhayal dan melihat itu dia tahu kalau akan mengeluarkan mani), atau dengan tidur berdampingan (bersenang-senang) bersama istrinya. Jika mani keluar dengan salah satu sebab di atas, maka puasanya batal.
  8. Muntah dengan sengaja.

Masalah-masalah yang Berkaitan dengan Puasa:

  1. Suami-Istri

Apabila seseorang berhubungan dengan istrinya pada siang hari Ramadhan dengan sengaja, tanpa terpaksa dan mengetahui keharamannya maka puasanya batal, berdosa, wajib menahan diri dari hal-hal yang membatalkan puasa sampai maghrib dan wajib mengqodho puasanya serta wajib membayar denda kaffarah udzma yaitu:

  • Membebaskan budak perempuan yang islam.
  • Jika tidak mampu, wajib berpuasa dua bulan berturut-turut.
  • Jika tidak mampu, maka wajib memberi makanan pada 60 orang miskin masing-masing berupa 1 mud (sekitar 6,5 ons) dari makanan pokok.

Denda ini wajib dikeluarkan hanya bagi laki-laki saja, karena dengan masuknya kelamin laki-laki, sang wanita sudah menjadi batal puasanya.

  1. Hukum Menelan Dahak.
  • Jika telah mencapai batas luar tenggorokan, maka haram menelan dan membatalkan puasanya.
  • Jika masih di batas dalam tenggorokan, maka boleh dan tidak membatalkan puasanya.

Yang dimaksud batas luar tenggorokan menurut pendapat Imam Nawawi (yang mu’tamad) adalah makhroj huruf ha’ (ح) dan dibawahnya adalah batas dalam. Sedangkan menurut sebagian ulama, batas luar adalah makhroj huruf kho’ (خ) dan dibawahnya adalah batas dalam.

  1. Menelan Ludah Tidak Membatalkan Puasa dengan Syarat:
  • Murni (tidak tercampur benda lain)
  • Suci
  • Berasal dari sumbernya yaitu lidah dan dalam mulut, sedangkan menelan ludah yang sudah berada pada bibir luar membatalkan puasa.
  1. Hukum Masuknya Air Mandi ke Dalam Rongga Tanpa Sengaja:
  • Jika sebab mandi sunnah seperti mandi untuk sholat jum’at atau mandi wajib (janabat) maka tidak membatalkan puasa kecuali jika sengaja atau dengan menyelam.
  • Jika bukan mandi sunnah atau wajib seperti mandi untuk membersihkan badan, maka puasanya batal baik disengaja atau tidak.
  1. Hukum Air Kumur yang Tertelan Tanpa Sengaja:
  • Jika berkumur untuk kesunnahan seperti dalam wudhu’, tidak membatalkan puasa asalkan tidak terlalu ke dalam (mubalaghoh).
  • Jika berkumur biasa, bukan untuk kesunnahan maka puasanya batal secara mutlak, baik terlalu ke dalam (mubalaghoh) atau tidak.
  1. Muntah atau Dalam Mulut Berdarah

Orang yang muntah atau dalam mulutnya berdarah wajib berkumur dengan mubalaghoh (membersihkan hingga ke pangkal tenggorokan) agar semua bagian mulutnya suci. Apabila ia menelan ludah tanpa mensucikan mulutnya dari sisa muntah, maka puasanya batal.

  1. Membatalkan Puasa atau Tidak Niat

Orang yang sengaja membatalkan puasanya (alasan syar’i) atau tidak berniat di malam hari, wajib menahan diri di siang hari Ramadhan dari perkara yang membatalkan puasa (selayaknya orang puasa) sampai maghrib dan setelah Ramadhan wajib mengqodho puasanya.

  1. Berbagai konsekuensi bagi orang yang tidak berpuasa atau membatalkan puasa Ramadhan:
  2. WAJIB QODHO’ DAN MEMBAYAR DENDA
  • Jika membatalkan puasa demi orang lain. Seperti perempuan mengandung dan menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan anaknya saja.
  • Mengakhirkan qodho’ puasanya hingga datang Ramadhan lagi tanpa ada uzur.
  1. WAJIB QODHO’ TANPA DENDA
  • Berlaku bagi orang yang tidak berniat puasa di malam hari
  • Orang yang membatalkan puasanya dengan selain jima’ (bersetubuh)
  • Perempuan hamil atau menyusui yang tidak puasa karena kuatir pada kesehatan dirinya saja atau kesehatan dirinya dan anaknya.
  1. WAJIB DENDA TANPA QODHO’
  • Berlaku bagi orang lanjut usia tidak mampu berpuasa.
  • Orang sakit yang tidak punya harapan sembuh, ia tidak mampu berpuasa.
  1. TIDAK WAJIB QODHO’ DAN TIDAK WAJIB DENDA
  • Berlaku bagi orang yang kehilangan akal/ gila yang permanen atau tidak mengalami kesembuhan.

Yang dimaksud DENDA di sini adalah FIDYAH, 1 mud (6,5 ons) makanan pokok daerah setempat (beras) untuk setiap harinya.

Hal-hal yang Disunnahkan dalam Puasa Ramadhan

  1. Menyegerakan berbuka puasa.
  2. Makan Sahur.
  3. Mengakhirkan sahur, dimulai dari tengah malam.
  4. Berbuka dengan kurma (ruthab) + dengan bilangan ganjil. Bila tidak ada kurma, dengan air zam zam/ air putih. Atau dengan makanan manis alami (yang belum tersentuh oleh api/ dimasak), misal: madu, kismis dan sejenisnya.
  5. Membaca doa saat berbuka puasa.
  6. Memberi makanan berbuka pada orang yang berpuasa.
  7. Mandi janabat sebelum terbitnya fajar bagi orang yang junub di malam hari.
  8. Mandi setiap malam di bulan Ramadhan.
  9. Menekuni sholat tarawih dan witir.
  10. Memperbanyak bacaan Al Qur’an dengan tadabbur.
  11. Memperbanyak amalan sunnah dan amal sholeh.
  12. Meninggalkan caci maki.
  13. Berusaha makan dari yang halal.
  14. Bersungguh-sungguh di sepuluh hari terakhir.

HAL-HAL YANG DIMAKRUHKAN DALAM PUASA RAMADHAN

  1. Mencicipi makanan.
  2. Bekam (mengeluarkan darah).
  3. Banyak tidur dan terlalu kenyang.
  4. Mandi dengan menyelam.
  5. Memakai siwak setelah masuk waktu duhur.

HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PAHALA PUASA (MUHBITHAAT)

  1. Ghibah (gossip).
  2. Adu domba.
  3. Berbohong.
  4. Memandang hal-hal yang haram atau pun halal, namun dengan syahwat.
  5. Sumpah palsu.
  6. Berkata jorok atau melakukan perbuatan jelek.

Catatan tambahan dan soal-jawab seputar puasa.

Untuk menentukan awal Bulan Ramadhan dan 1 Syawwal (Lebaran Idul Fitri) dianjurkan mengikuti keputusan Pemerintah Pusat. Dalam hal ini adalah Majlis Ulama Indonesia (MUI), melalui sidang Itsbat, yang anggotanya terdiri dari pakar-pakar Islam yang kredibel dalam ilmu ru’yah maupun hisab. Dengan demikian umat Islam Indonesia dapat bersatu dan tidak terpecah belah.

  • Soal: Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan cek golongan darah, dengan sedikit melukai kulit?
  • Jawab : Boleh dan Puasanya Sah.
  • Soal : Bagaimana hukumnya orang yang berpuasa melakukan infus/ memasukan makanan melalui pembuluh darah?
  • Jawab : Tidak Boleh dan Puasanya Batal.
  • Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan suntik atau bius lokal?
  • Jawab : Boleh dan Puasanya Sah selama cairan tidak mengalir ke saluran makanan (pencernaan).
  • Soal : Bagaimana hukumnya berpuasa melakukan donor darah atau mengambil darah untuk cek laboratorium termasuk hijamah (bekam)?
  • Jawab : Hukumnya makruh dan Puasanya Sah.

 

6 RAHASIA PUASA MENURUT AL GHAZALI

Ramadhan kita jalani selama berhari-hari sebulan penuh. Kita merasakan lapar dan haus setiap kali matahari berada ujung kepala. Apalagi bagi kita yang masih beraktivitas dan bekerja hingga waktu siang. Perut terasa sakit dan tenggorokan dahaga, ditambah lagi terik yang mengucurkan keringat.

Bukan cuma menahan diri dari makan dan minum, tetapi selama puasa kita harus menahan diri dari semua yang membatalkan. Sebagian dari hal yang membatalkan puasa ialah memasukkan benda (padat atau cair) ke dalam tubuh, baik melalui mulut, telinga, hidung, maupun lubang-lubang tubuh lain. Orang yang berpuasa juga harus menekan diri dari syahwatul farji yaitu bersetubuh, atau barangkali “onani/masturbasi”.

Secara kasat mata, puasa hanyalah ibadah badaniyah (ibadah fisik) yang mampu melatih tubuh untuk lebih mandiri dan membiasakan diri dari bersenang-senang. Perut dilatih untuk tidak makan dalam durasi yang lebih lama dari hari-hari biasa. Bagi yang sudah menikah, dilatih untuk tidak berhubungan badan dengan pasangannya di siang hari.

Namun ternyata, puasa bukanlah soal fisik semata, melainkan penempaan batin dari hawa nafsu. Semua ibadah yang disyariatkan Allah tentu penuh dengan rahasia tersembunyi. Jarang sekali yang merenungkannya dan memahami, hingga dijiwai sebagai syariat. Banyak perbuatan orang puasa yang secara syariat tidak membatalkan puasa, namun mnggugurkan pahala besarnya.

Imam Muhammad al-Ghazali, seorang sufi yang sangat memahami ilmu fiqh, memberikan gagasan tentang rahasia puasa. Sebagai seorang ahli fiqh sekaligus ahli tasawuf, Imam Ghazali tidak melulu memandang puasa sebagai ibadah badaniyah. Oleh karena itu, gagasannya tentang rahasia puasa pun menyadarkan kita akan pentingnya menunaikan ibadah puasa secara lahir batin.

Berikut ini enam rahasia puasa menurut Imam al Ghazali yang ditulis dalam kitab fenomenalnya Ihya’ Ulum ad Din:

  1. Menundukkan mata dan mencegahnya dari memperluas pandangan ke semua yang dimakruhkan, dan dari apapun yang melalaikan hati untuk berdzikir kepada Allah.
  2. Menjaga lisan dari igauan, dusta, mengumpat, fitnah, mencela, tengkar, dan munafik.
  3. Menahan telinga dari mendengar hal-hal yang dimakruhkan. Karena semua yang haram diucapkan, haram pula didengarkan. Allah menyamakan antara mendengar dan memakan perkara haram, “sammaa’uuna lil kadzibi akkaaluuna lis suht”.
  4. Mencegah bagian tubuh yang lain seperti tangan dan kaki dari tindakan-tindakan dosa, juga mencegah perut dari makan barang syubhat ketika berbuka. Mana mungkin bermakna, orang berpuasa dari makanan halal lalu berbuka dengan makanan haram. Ibaratnya seperti orang yang membangun gedung tetapi menghancurkan kota. Nabi Muhammad pernah bersabda, “Banyak sekali orang yang berpuasa namun yang ia dapat hanya lapar dan haus. Ia adalah orang yang berbuka dengan haram. ”Wa qiila, “Ia yang berpuasa lalu berbuka dengan memakan daging sesama, yaitu dengan ghibah.”
  5. Tidak memperbanyak makan ketika berbuka, mengisi perut dan mulut dengan tidak sewajarnya. Maka, apalah arti puasa jika saat berbuka seseorang mengganti apa yang hilang ketika waktu siang, yaitu makan. Bahkan, justru ketika Ramadhan makanan akan lebih beragam. Apa yang tidak dimakan di bulan-bulan selain Ramadhan malah tersedia saat Ramadhan. Padahal, maksud dan tujuan puasa ialah mengosongkan perut dan menghancurkan syahwat, supaya diri menjadi kuat untuk bertakwa.
  6. Supaya hati setelah berbuka bergoncang antara khouf(takut) dan roja’ (mengharap). Karena, ia tidak tahu apakah puasanya diterima dan ia menjadi orang yang dekat dengan Allah, ataukah puasanya ditolak dan ia menjadi orang yang dibenci. Dan seperti itulah adanya di seluruh ibadah ketika selesai dilaksanakan.

Rahasia-rahasia yang dipaparkan oleh Imam Ghazali ini bisa kita perhatikan baik-baik, di mana puasa bukan hanya tentang perut. Puasa adalah berpuasanya seluruh tubuh, puasanya mata, puasanya kaki, puasanya tangan, puasanya telinga, bahkan hati pun ikut berpuasa. Puasa tidak hanya dipandang secara syariat antara sah dan batal. Karena yang puasanya sah hingga tebenam matahari belum tentu diterima oleh Allah. Melainkan puasa yang menyeluruh dari raga hingga jiwa. Wallahu a’lam bis shawab.

 

Sumber:

http://www.fiqhmenjawab.net

mafahim.wordpress.com