MUTIARA NEGERI TIMUR

di Pada suatu pagi seperti biasa kegiatan di sekolah, seluruh siswa datang lima belas menit sebelum bel dan bersiap-siap di depan kelas untuk berbaris memasuki kelas masing-masing. Mereka berjabat tangan dan cium tangan kepada guru pada jam pertama, meskipun diantara mereka ada saja yang masih datang terlambat sehingga harus datang ke kantor atau menghadap ke guru piket untuk meminta surat ijin agar bisa masuk kelas.

Lain kisah pada sebuah sekolah,

Pada suatu pagi, sekelompok siswa datang ke sekolah naik motor, setelah tiba di sekitar lingkungan sekolah, mereka tongkrongan dulu di belakang masjid sembari menunggu bel jam tujuh berdering. Salah seorang siswa berbekal sebotol air minum Bicola. Mereka saling berceloteh, becengkarama dan bercanda tawa hingga salah seoang siswa yang lain merasa dahaga dan meminum sebotol air bekal yang dibawa oleh temannya.

Ia tidak tahu menahu apa yang ada dalam botol bicola tersebut. Ia hanya tahu kalau itu adalah minuman bicola. Namun setelah diminum ternyata minuman jenis minuman keras. Seketika ia pusing, urat bola matanya memerah dan mabuk. Terdengar bel jam tujuh berbunyi tanda masuk sekolah. Sekolah yang menjadwalkan kegiatan pagi dengan tadarusan/setoran juz amma untuk kelas tujuh dan delapan dan shalat dhuha berjamaah untuk kelas Sembilan. Maka ia segera masuk masjid dan mengikuti shalat dhuha berjamaah.

Anda dapat melihat fenomena lama seperti sepenggal kisah di atas. Sebuah kisah, seperti kisah di atas bukanlah kisah baru di dunia pendidikan. Namun telah berakarurat di dalam jiwa yang tertanam budaya ketimuran, sebut Indonesia. Dunia pendidikan dengan budaya “jabat tangan” meniscayakan sebuah penghormatan atas diri seorang murid kepada guru. Sedangkan “cium tangan” merupakan bentuk penghargaan atas harga seorang murid kepada guru.

Jauh sebelum pendidikan modern membahana di negeri ini, jauh di pelosok-pelosok negeri telah menanamkan budaya yang begitu indah dan harum terasa di lembah manah masyarakat, khususnya jawa.

Budaya “jabat tangan” dan “cium tangan” membekali para pelaku budaya untuk bertindak tunduk dan patuh. Pemaknaan terhadap kedua budaya tersebut dapat dilihat dari berbagai perspektif. Perspektif ini dapat dipengaruhi landasan berpikir yang dimiliki seseorang. Perspektif ini pula yang dapat menimbulkan sebuah budaya baru. Cium tangan dipandang dari sisi psikologi/jiwa mengandung maksud melatih berbagai ketundukpatuhan kepada yang lebih tua, yang berilmu dan berderajat.

Rupa-rupanya modernitas dalam dunia pendidikan telah berhasil masuk dan menjadi jiwa pembentuk dunia pendidikan saat ini. Jiwa pembentuk itu sendiri ialah pembentuk terhadap diri yang memiliki pendidikan atau kehidupan. Sementara, modernitas cenderung condong kepada sebuah kekayaan, kecantikan dan jabatan. Tidak bagi seorang siswa juga tidak bagi seorang guru, semua telah benar-benar menjiwai modernitas dengan ciri-ciri kepada kebendaan dan keduniawian, sehingga benar-benar jauh dan semakin menjauh dari nilai pendidikan itu sendiri yang berupaya mendidik manusia menjadi manusia seutuhnya dan mampu memanusiakan manusia.

Inilah esensi yang sebenarnya ingin diraih oleh lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan format kurikulum yang hampir tiap tahun ganti dan ternyata masih tetap berujung tombak pada nilai pendidikan dengan makna hakikinya, yang tidak lain dapat diraih dengan jiwa terdidik dan pendidik sejati melalui pendidikan hati/jiwa, sikap.

Pendidikan hati atau jiwa disini tidak secara terperinci saya bahas. Wilayah jiwa atau hati menurut penulis dapat menjadi wilayah yang bertransenden jauh dan paling dekat. Bermakna jauh, mengandung pengertian bahwa nilai-nilai yang seharusnya ditanamkan justru hanya menjadi bungkus saja, namun aplikasinya melenceng dari substansinya. Sedangkan bermakna dekat, karena memang itu wilayah garapan yang sesungguhnya bagi dunia pendidikan yang tersimpan, terbekali dan bersemayam dalam diri manusia. Inilah yang menjadi pembeda. Manusia makhluk paling unik dan sempurna.

Nilai-nilai makna dalam praktik-praktik pendidikan dikemas dengan rapi dan berlabelkan modernitas, berbahasa Inggris, berteknologi tinggi dan paling mahal. Makna pendidikan yang inilah yang menjadi idola putra-putri bangsa saat ini. Namun arahan dan nasehat orang tua dengan keseimbangan perolehan ilmu duniawi dan ukhrowi tidak digople sama sekali dan dianggap kuno; ketinggalan jaman dan orang yang masih berpaham demikian dianggap primitif.

Hal inilah yang kemudian tercerminkan dalam sepenggal kisah yang kedua diatas. Budaya tongkrongan menjadi budaya menarik dan banyak diminati siswa sehingga sangat mungkin berbagai pengaruh-pengaruh negative menjalar dalam otak mereka. Perbuatan demikian terus dilakukan setiap hari, sehingga karakter yang terbentuk ialah karakter pemalas, perokok dan pemalak bila mereka tidak memiliki uang untuk membeli rokok yang kesemuanya itu hanya ingin mendapatkan segala sesuatu serba instan.

Budaya sebagai hasil pemikiran adalah sebuah daya yang dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman yang tersimpan di dalam memorinya. Sedangkan pengalaman ialah rekaman yang dimiliki oleh orang yang mengalami, melakukan dan berbuat sesuatu. Sehingga buah pemikiran diluar itu semua bukanlah pengalaman. Oleh karenanya sangat bijak dan pantas manakala pendidikan adalah scenario pengalaman bagi siswa, karena dari scenario itu akan terjadi tindakan atau perbuatan yang darinya dengan segala aspek dan daya dukung insaniyahnya, memori otak manusia akan merekam segala kejadian dan perbuatan yang dilakukan.

Sedangkan pengalaman sangat dipengaruhi konsep hukum, yaitu baik-buruk, halal-haram, makruh-mubah dan konsep seni yaitu, indah-jelek, cantik jelek. Semuanya berkoridor pada haluan-haluan daya pikir manusia. Sehingga pada tahap ini, manusia terbelenggu pada sebuah keterbatasan alam jasmaniahnya.

Kalau dipikirkan dengan hati nurani lebih mendalam, semua scenario hanyalah daya rasa, daya cipta, daya karya yang dimiliki manusia. Bila manusia meninggalkan hati nuraninya dan hanya mengunggulkan daya pikirnya yang hanya dan selalu terpetak pada akal insaniyahnya, maka belenggu itu semakin kuat membatasi daya-daya itu sendiri, sehingga manusia tidak akan mampu menembus alam ilahiyahnya yaitu Sang Khalik yang Maha Tidak Terbatas. Meskpun yang demikian dalam alam pikir manusia adalah hal yang mustahil, namun ketika insaniyahnya merambah pada alam ilahiyahnya dengan tingkat kepasrahan pada Sang pembuat scenario, maka ia benar-benar telah masuk ke dalam ilahiyah-nya.

AKHLAK MULIA KE-INDONESIA-AN

Meruntut sejarah Indonesia dan disandingkan dengan sejarah masuknya agama Islam sarat dengan esensi budaya nilai yang telah tertanam dalam sanubari penduduk nusantara. Asing dari perilaku kekerasan, ketidakadilan dan identik dengan kelemahlembutan dan suka damai.

Seiring masuknya Islam di nusantara, seiring itu pula bahwa nusantara merupakan wilayah garapan Islam dalam menyempurnakan akhlak manusia sesuai ajaran Islam. Hal ini tidak dimaksudkan bahwa nusantara, jawa khususnya tidak sesuai dengan akhlak keIslaman, justru di tanah jawa inilah, ajaran-ajaran Islam banyak terdeskripsikan dalam kehidupan sehari-harinya, namun secara visi Islam, yaitu menegakkan ketauhidan, jawa menjadi pusat Islam nusantara.

Islam sebagai formulasi sempurna beragama, bertauhid dan bersosialisasi bahkan dalam segala aspek kehidupan manusianya, sebagian besar sudah termanivestasikan dalam perilaku asli jawawiyun (orang jawa, read). Formulasi Islam yang mengandung visi, menegakkan tauhid dan misi menyempurnakan akhlak manusia, sangat perlu direformulasi kembali agar dapat diterima oleh jawawiyun. Langkah inilah yang telah diambil salah satu Sunan, dari Sunan Wali sanga, Raden Mas Said (Sunan Kali Jaga) dengan ciri khas baju hitamnya, teguh pendirian namun lembut dan santun dalam bergaul, sehingga mampu menaklukkan hati masyarakat jawa, merangkul mereka untuk memeluk sumber pokok dan nilai kehidupan sesungguhnya, Islam.

Di abad 21, modern saat ini banyak bermunculan para ulama dengan pemikiran yang berkembang dan maju mengikuti perkembangan berbagai aspek kehidupan. Tokoh ulama besar inilah yang kemudian menjadi pelopor gerakan organisasi yang mempunyai ciri khas keislaman jawa. Muslim yang njawani atau jawa yang Islami (Muslimun jawawiyun atau muslimun arabiyun)

AJARAN AGAMA DAN KEARIFAN LOKAL

Agama sering kali dimaknai dengan ritual-ritual ibadah sehari-hari yang mengandung sekumpulan tata aturan yang mengatur ketertiban dan kedisiplinannya dalam pelaksanaannya. Agama, sistem yg mengatur tata keimanan (kepercayaan) kepada Tuhan yang Mahakuasa, tata peribadatan, dan tata kaidah yang bertalian dengan pergaulan manusia dan manusia serta lingkungannya dengan kepercayaan itu

Agama, dimiliki oleh manusia, maka ia menjadi beragama. Manusia beragama memiliki pandangan ke”langit”an saja tentang kemuliaannya di mata Tuhannya. Pandangan hidup ke”makhluk”an dapat pula mengangkat manusia memasuki alam langit. Kehidupan tidak hanya menyaratkan suatu hubungan antara manusia sebagai makhluk dan tuhan sebagai khalik. Namun, agama memberikan tata aturan kehidupan dalam bergaul sesama manusia dan sesama makhluk.

…….bersambung

Iklan