Kelam

 

 

Kau masih tetap yang dulu

Menjadi sesuatu yang tak pernah berpadu

Menghantui dalam kesendirianmu

Meski berpadu kau tetap satu

Dan tetap saja begitu

 

Terlenaku menapaki jerujimu

Tuk merangkai tapak-tapak koridormu

Mengukir langkah pada peraduanmu

Kau tetap saja begitu

Dan bersikukuh tak mau mengaku

 

Kini kau datang merayu

Untuk menapaki lagi ukiran tapak itu

Yang telah lama layu

Terimbas dari riuknya laku

Namun kenapa kau masih tetap kaku

Akhirnya, aku pula yang mengaku

Mengapa kau masih tetap begitu

 

Sadarilah, kelam itu selalu begitu

Dan terus selalu begitu

Hingga kesadaranmu mengaku

Bahwa dialah aku

Dan kelam itu pula adalah aku

Akhirnya, siapalah diriku dalam kelamku?

 

Krenceng,17 Desember 2012