Tangisan

tatkala hati jenuh

enggan untuk mengucurkan air mata

penyesalan terus bermusafir

menghampiri di setiap sendi

 

menuntut, memohon dan bertengadah

mengemis tumpangan alirannya

karena mata tak lagi mampu

tak lagi sanggup menanggung

 

dia hanya bergelimang dengan kenikmatan

betapa indahnya tubuh cewek itu

dia hanya tak peduli

itukan urusan dia, buat apa ikut campur

 

dia hanya pribadi

semua sudah ada tanggung jawabnya masing-masing

aaah biarkan saja, yang penting aku tak seperti itu

kucuran air mata kian deras

 

kian kebingungan mencari tumpangan

tak ada lagi yang bisa diharapkan

tak ada lagi yang bisa diandalkan

mata satu-satunya, lari dari kenyataan

 

semakin membuta, semakin acuh, semakin egois

ya Allah kemana lagi aku harus mengadu

mata yang telah engkau hiasi dengan lentik bulu yang menawan

telah berhianat kepada-mu

 

mulut yang telah engkau hiasi dengan bibir nan indah

telah berbau busuk karena kepalsuan

 

di masa entah….