INTERNET = Mendoan, masihkah disebut MEWAH?

Internet, teknologi atau barang-barang elektronik sekarang ini bukan lagi hal yang wah dan mahal. Ibarat orang membeli mendoan, pasti ada dimana-mana dan terjangkau harganya. Oleh karena itu, banyak orang membuka warung untuk menjual jasa internet. Terlebih yang sangat mengherankan dan bisa membuat kita menggelengkan kepala ialah anak-anak usia sekolah dasar pun saat ini telah banyak memegang handphone meski hanya untuk game atau memainkan musik. Mereke lebih lihai memainkan handphone dari pada bapak-ibunya. Bila HP bordering, bapak-ibunya yang masih jadul hanya berteriak “kae HP-ne muni”.

Betapa tidak menggelengkan kepala, pemirsa! Saya mendengar cerita dari paman saya, Bapak Fauzi namanya, ia mempunyai cerita dari temannya yang baru pulang dari Amerika. Inti cerita itu berisi tentang ketidakmewahan barang-barang elektronik semacam HP. Di Negara itu, user HP hanya dikalangan pembisnis besar, itupun tidak semahal dan semewah user-user di Indonesia. Bagi mereka komunikasi lebih penting, dari pada memilih feature-feature yang disediakan oleh masing-masing tipe HP.

Hal itulah yang membuat penulis heran, Indonesia dengan ranking Negara yang memiliki hutang luar negeri begitu melejit tinggi, namun penduduknya masih tetap menikmati kemewahan dari barang-barang elektronik seperti HP.

Dilain pihak yang tidak kalah mengherankan lagi adalah sepeda motor. Berdasarkan data Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia (AISI), pada periode Januari-Juni 2012 penjualan sepeda motor di pasar domestik tercatat 3.702.354 unit atau turun 8,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang tercatat 4.056.075 unit. Dalam kondisi pasar yang melemah ini, AHM tercatat sebagai salah satu produsen yang mampu mempertahankan pertumbuhan penjualan yaitu dari hanya 2.099.349 unit menjadi 2.101.881 unit (http://otomotifzone.com/2012/07/12/hingga-juni-2012-honda-tetap-pimpin-pasar-sepeda-motor/).

Beberapa wacana di atas, dapat menandakan bahwa manusia Indonesia dengan tingkat pertumbuhan penduduknya yang cukup tinggi, seharusnya tidak menunjukkan suatu Negara miskin atau Negara paling kaya akan hutang. Lalu dimana letak dan apa penyebabnya Negara ini disebut demikian?

Beberapa hal dapat kita renungkan dari sifat, karakter dan tabiat orang Indonesia sendiri. Dari sisi psikologis, barangkali kemalasan dan sifat orientasi hidup dengan bertumpu pada “uang hari ini kita pakai hari ini sampai habis, esok hari kita cari lagi,” yang membuat Negara ini memiliki banyak hutang.

Dari sisi lain, dapat kita tilik lagi, misalnya hilang atau merebaknya paham pragmatism pada diri setiap individu manusia, meskipun dari sifat, karakter dan tabiat itu sendiri merupakan indikasi dari suatu paham pragmatism, akan tetapi lebih menukik lagi bahwasanya, orientasi hidup terhadap barang-barang duniawi menandakan akan krisisnya nilai-nilai iman dalam diri setiap individu bangsa ini, khususnya keimanan terhadap alam ghaib. Mereka sudah tidak lagi percaya akan kegaiban akherat sebagai alam dimana mereka kembali untuk dimintai pertanggungjawaban atas perbuatan yang dilakukan selama di dunia.

Disana masih banyak lagi hal-hal yang sangat perlu kita soroti, benahi dan tingkatkan bersama. Sesungguhnya banyak hal positif yang bisa dimanfaatkan dari media-media yang berbau teknologi atau semacam sosial conection semacam facebook, twitter dan sebagainya. Hanya saja bimbingan dan arahan yang kurang massif terhadap generasi muda sehingga pemanfaatannya sangat cenderung pada madharatnya.

Jika kita menilik lagi pada beberapa abad sejarah silam, kita mengenal Sunan Kalijaga. Beliau merupakan sosok pahlawan islam yang memiliki darah asli orang Indonesia. Beliau tidak menantang dan memporakporandakan budaya yang telah tertanam dalam sanubari orang Indonesia, akan tetapi menyusupinya dengan budaya dan syariat islam, sehingga dakwah islamiyah benar-benar masuk ke dalam sanubari tanpa mereka sadari. hal itu dapat kita artikan bahwa, teknologi sebagai media tak dapat kita bendung, tapi harus kita imbangi dengan nilai-nilai islamiyah agar pendidikan dapat membentuk manusia indonesia seutuhnya yang menjunjung tinggi nilai-nilai budaya islam dan budaya ketimuran.

Dibawah ini penulis kutipkan dari https://www.facebook.com/safety/groups/teachers/ untuk disimak, dikaji dan bisa diterapkan untuk diri sendiri, keluarga, tetangga dan masyarakat seluruhnya.

Mengajari Anak-anak Digital

Teknologi ada di sekeliling kita, dan murid-murid Anda tidak berhenti menggunakan ponsel atau media sosial saat berada di sekolah. Baik di dalam maupun di luar kelas, guru dapat memainkan peran penting untuk menjaga keamanan remaja.

Teladankan Kewarganegaraan

Remaja masa kini tumbuh dalam dunia digital. Meski sebagian besar orang dewasa tidak aktif menggunakan media sosial dan teknologi baru, remaja masih mencari teladan dari orang dewasa tentang cara menjadi warga yang baik—online dan offline. Itulah sebabnya kami menganjurkan kaum pendidik berinteraksi dengan murid secara online. Ingatlah bahwa distrik dan sekolah memiliki kebijakan yang berbeda-beda tentang menggunakan media sosial dalam kelas. Pastikan Anda memahami pedoman sekolah Anda.

Facebook di Ruang Kelas

Anda dapat menggunakan Facebook sebagai pusat komunikasi. Buatlah halaman publik atau grup tertutup yang lebih kecil untuk kelas Anda, untuk memberi informasi kepada orang tua, mengirimkan PR atau surat izin, dan berbagi foto atau video tentang kegiatan kelas atau karyawisata. Halaman bisa disukai oleh siapa saja di Facebook, dan murid-murid yang melakukan itu akan melihat berita terbaru di Kabar Beritanya. Selain itu, grup memungkinkan Anda membatasi keanggotaan hanya orang-orang yang Anda setujui. Anda juga dapat mengirimkan email kepada semua anggota grup.

Baca kiriman blog ini untuk mempelajari selengkapnya perbedaan antara halaman dan grup.

Baik Pribadi maupun Profesional

Memiliki halaman atau grup juga merupakan cara yang baik untuk menegaskan kehadiran sebagai guru, tanpa mengaburkan garis batas antara kehidupan pribadi dan profesional Anda. Anda dapat berinteraksi dengan orang tua, murid, dan rekan kerja melalui halaman atau grup Anda, yang bernama misalnya “IPA Kelas 9 Bu Wati.” Sekali lagi, pastikan Anda memahami dan mematuhi kebijakan media sosial di sekolah Anda.

Menjaga Privasi Hal-hal yang Pribadi

Jika Anda memutuskan untuk menggunakan halaman atau grup Facebook untuk berinteraksi dengan murid, pastikan Anda menyesuaikan pengaturan privasi Anda agar menampilkan informasi sebatas yang Anda ingin ungkapkan kepada orang-orang yang Anda kenal di sekolah. Anda juga dapat meneladankan perilaku aman, dengan cara berhati-hati dengan hal yang Anda bagikan secara online.

Laporkan Penyalahgunaan

Jika Anda melihat konten yang tidak pantas, laporkan kepada kami agar dapat kami tinjau. Kami akan menghapus hal yang dilaporkan jika melanggar Ketentuan.

Anda dan murid-murid juga dapat memblokir orang lain agar tidak bisa menemukan Anda dalam pencarian, melihat profil Anda, atau mengirimi Anda pesan.

Saran untuk Guru

  1. Pahami dan patuhi kebijakan sekolah tentang penggunaan media sosial di ruang kelas.
  2. Gunakan halaman publik untuk kelas Anda, untuk menayangkan tugas PR dan berita lain.
  3. Gunakan grup untuk mengendalikan keanggotaan dan memudahkan diskusi.
  4. Jadilah teladan sebagai warga online yang baik.
  5. Laporkan konten yang tidak pantas ke Facebook.

semoga sekelumit tulisan ini dapat bermanfaat untuk kita semua, dari lubuk hati yang paling dalam, penulis tidak bermksud menyinggung atau merusak bahkan menyakiti satu pihak, tapi paling tidak hal ini dapat kita jadikan bahan perenungan kita selanjutnya untuk menemukan model, metode dan strategi pengajaran, pembelajaran dan pendidikan untuk diterapkan kepada anak-anak didik kita.

wallohu a’lam bishshowab.

mohon kritik dan saran yang membangun untuk peningkatan blog ini. thanks bro…..selamat membaca dan merenung…..hehehe