Ketenangan dan Cinta

Sesungguhnya kalimat ini tak pantas aku uraikan dan aku sandingkan di depanmu sebagai suatu tulisan yang mewakili keadaan dan kondisiku sebenarnya. Segala puji tetap bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam dengan segala isinya baik dunia dan akhirat.

Maha suci Allah yang telah menciptakan alam semesta ini dengan segala keteraturannya dan tiada diskriminasi diantara makhluk-Nya.

Penulis akan memulai tulisan ini berangkat dari pengalaman yang penulis alami dan fenomena-fenomena yang merebak yang menjadi salah satu momok bagi kaum remaja dan bahkan menjadi suatu misteri yang susah untuk dipecahkan. Problem ini pada umumnya terjadi pada setiap diri manusia dengan tidak memandang  status, ras, dan berbagai sandang yang dimiliki oleh manusia.

Dewasa ini, bahkan mungkin jauh sebelumnya sering terjadi bahwa pergaulan antar sesama manusia merupakan salah satu wahana yang penting dan terus dialami dan dilakukan oleh manusia. Pergaulan dengan suatu pertalian, katakanlah pertalian cinta, yang mendasarkan pada suatu hubungan status khusus, atau istilahnya adalah pacaran. Sering kali membuat para si pelaku untuk menjajaki lawan pasangannya, baik satu pasangan atau bahkan lebih.  Artinya bahwa adakalanya salah satu si pelaku merupakan sosok manusia yang setia pada pasangannya sehingga ia tidak akan membangun suatu pertalian cinta yang lain ketika ia masih memiliki pertalian dengan pasangannya. Namun, selain itu, ada kalanya penjajakan itu bersifat zig-zag atau tidak beraturan. Pada satu sisi ia memiliki pertalian dengan satu orang, dan juga memiliki satu pertalian dengan orang lain (playboy).

Hal ini sangat umum terjadi baik lak-laki ataupun perempuan. Apakah si pelaku adalah laki-laki atau perempuan yang setia pada satu pasangan dan ketika sudah tidak bisa dipertahankan maka dia putuskan dan menjalin hubungan dengan yang lain atau yang menjalin dua pertalian sekaligus dalam satu waktu dan berbeda tempat.

Merebaknya fenomena percintaan tersebut membuat para si pelaku akan terus ketagihan dan semakin penasaran akan rasa ingin tahu lebih mendalam tentang lawan pasangannya. Baik laki-laki ingin mengetahui perempuan atau sebaliknya. Suatu hal yang menurut ukuran akal dengan baik-buruk dan salah-benar ialah keteledoran si pelaku akan penyimpangan-penyimpangan sikap dan perbuatan dalam pergaulan. Artinya bahwa perbuatan-perbuatan yang mengatasnamakan cinta hanya dilandasi atas perasaan yang sedang dialami, entah itu bersifat sementara waktu, sedang dan bersifat lumayan lama. Ketentuan atau kepastian durasi tersebut dengan kelanggengan satu perasaan pada suatu waktu tidak dapat ditentukan secara pasti. Bisa  jadi durasi itu berlangsung dalam kurun waktu satu hari, satu bulan, satu minggu bahkan satu tahun.

Beberapa frekuensi yang menjadi tolok ukur meski tidak mutlak itu, dapat dipengaruhi oleh suatu kebaikan-kebaikan yang dilakukan oleh pasangannya. Jasa-jasa yang diberikan pasangannya akan menjadi pertimbangan untuk mempertahankan pertalian yang sedang dibangun. Akan tetapi, bahwa pertimbangan baik-buruk dan salah dan benar ialah akal yang menjadi alatnya dan pada intinya cinta sendiri tetap suci dan murni sehingga cinta dapat tumbuh kembali ketika hati telah dikecewakan.

Tekait pada jasa-jasa kebaikan, seorang wanita, katakanlah B mengatakan bahwa, jasa-jasa kebaikan yang diberikan oleh pasangannya bukan merupakan suatu pertimbangan mutlak untuk mempertahankan suatu pertalian yang dibangun. Adakalanya jasa-jasa itu tetap menjadi pertimbangan, namun pada satu sisi yang transenden ada satu hal yang berpengaruh besar terhadap perwujudan pertalian halal yang menjadi suatu cita-cita cinta, perkawinan. Artinya bahwa semua jasa-jasa yang diberikan sama sekali tidak berpengaruh apapun terhadap suatu keputusan berlanjut atau tidaknya suatu pertalian. Sehingga wanita terpaksa akan memutuskan suatu pertalian tanpa ada penyebab yang pasti.

Akan tetapi, para pembaca perlu memahami bahwa kaum laki-laki akan lebih cenderung pada hal-hal rasional yang bersifat argumentatif yang pada akhirnya menjadi tuntutan yang ditujukan kepada wanita. Dilain pihak, hal itu merupakan suatu hal yang berat untuk dibahasakan oleh para wanita, sehingga hal itu pun menjadi suatu misteri yang susah dipecahkan dan tidak mendapat penyelesaian yang jelas. Semua hal akan menjadi tabu dan berakibat pada penyiksaan batin bagi si pelaku laki-laki.

Menurutnya lagi, bahwa dominasi laki-laki selain pada hal-hal yang rasional, dia juga lebih bersifat egois, otoriter dan ingin menjadi manusia super yang selalu ingin ditaati, dihormati dan dita’dzimi oleh pasangannya. Hal ini pun menjadi suatu sebab terjadinya rusaknya pertalian yang tidak terungkap, namun ada kalanya tidak disadari oleh kaum laki-laki karena merupakan suatu hal yang berat bagi kaum wanita untuk menceritakan secara jujur dan terbuka. Meskipun telah diceritakan, namun hal itu masih dianggap belum menyelesaikan masalah, karena masih abstrak dan tidak rasional atau bukan merupakan jawaban dari pertanyaan yang diberikan oleh si pelaku laki-laki.

Sesunggunya ketenangan hidup ialah dambaan setiap makhluk dalam meniti garis takdir yang telah ditentukan olah Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai suatu titian kehidupan yang menjadi lintasan setiap makhluk dengan takdirnya masing-masing. Demikian juga ketenangan itu sendiri berada pada hati yang senantiasa tuma’ninah dengan-Nya, oleh-Nya dan dari-Nya.  Namun, Sebenarnya ketenangan itu bukan berada ditempat dimana kita berada, oleh karena apa, dan untuk apa. Ketenangan itu selalu ada pada diri hati yang tuma’ninah itu sendiri. Lalu, bagaimana mencari ketenangan itu tanpa tercampuri sisi-sisi materi yang hudus dan pasti akan kehancurannya.

Kemudian bagaimana ketenangan itu bersemayam pada hati yang ragu, penuh sakwasangka?

Seterusnya bagaimana ketenangan itu diciptakan atau dianugerahkan dari yang Maha Kuasa?

Bukankah itu berada pada hati setiap makhluk, lalu kenapa pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul pada hati setiap makhluk pula. Perlu kita ketahui bersama, sekali lagi aku tegaskan, sesungguhnya ketenangan itu bersemayam di dalam hati, bukan dimana dan kapan kita berada, karena apa, untuk apa dan oleh siapa serta bagaimana kita menciptakannya. Namun ketenangan itu sendirilah yang menciptakan ketenangan.

Ketenangan merupakan kedamaian yang menjadi dambaan manusia sebagai anggota alam semesta meski sebagai makhluk kecil yang tercipta dan  makhluk lemah. Namun dibalik ciptaannya merupakan takdir kekhalifahannya sekaligus sebagai hamba yang senantiasa taat dan petuh kepada-Nya. Kehidupannya yang seimbang selalu mengimplmentasikan iyyak ana’budu wa iyya ka nasta’in. Secara personal manusia merupakan seorang ‘abd. Sedangkan secara sosial, manusia merupakan khalifah yang senantiasa menebarkan ketenangan, kedamaian dan ingin selalu menolong dan membantu saudarnya semuslim yang berada pada kesulitan dan musibah.

Kehancuran tatkala posisi kekhalifahannya ternodai oleh si Nafsu birahi dan kehewanan yang membuat tingkat drajat kemanusiaan manusia menjadi rendah dan hancur karena perilaku cerminan dari kedua makhluk tersebut.

Hati merasa ada ketenangan di dalamnya. Merasa semangat tatka ingatan telah kembali pada sang pancipta untuk selalu terus mengingatnya dan ingin terus bersemayam di dalamnya bersama-Nya. Namun, kehati-hatian ini belum mampu ciptakan ketenangan pada suatu usaha pengekalan ketenangan itu sendiri yang telah tertanam di dalam hati, sehingga si Nafsu berperan menyerupai makhluk yang maha indah dan sangat menarik lalu ketangan itu tertunduk padanya dan menimbulkan kegelisahan pada ketenangan hati itu.

Kerap hati merasa ketenangan itu telah kembali pada ketenangan hati yang dirindukannya, namun ketenangan itu sebenarnya telah pergi meninggalkannya jauh dan memboyong semua perkakas ketenangan itu. Dzikir; istighfar, tasbih, tahmid, tahlil kini telah pergi semua meski kalimat-kalimat itu masih terucap tiap kali ia menjalankan shalat lima waktu. Namun kalimat-kalimat itu telah mati dan jiwanya telah kembali pada Si Empunya kalimat di lauh mahfud sana.

Perlu diperdalam lagi, bahwa lauh mahfud bukanlah tempat sebagai ketenangan itu tercipta, bersemayam dan bersahaja. Namun ketenangan itu, tetap berada pada hati ketika jiwa kalimat-kalimat itu telah kembali hidup melewati reingkarnasi baru dalam tiap untaian-untaian kata taubat nasuha. Ia ialah kalimat-kalimat itu sendiri sebagai bumbu-bumbu ketenangan yang selalu menjadi jamuan sedap ketika berdiri, ruku’, sujud kepadanya karena ruh itu telah kembali padanya dalam ujud makhluk yang sama namun pada hakikatnya adalah berbeda dari makhluk pada awalnya.

Sebenarnya kemana arah kalimat-kalimat itu terlantunkan sebagaimana alur kalimat-kalimat itu terlantunkan dari kelemahan hati karena menyaksikan suatu fenomena dramatisasi suatu film yang mengisahkan suatu kisah cinta dua anak adam yang mengalami liku-liku perjalanan dan sangat memilukan dan membuat hati ini bergetar karena ketidakberdayaan hati menerima, menyaksikan dan berpikir tentang apa yang terjadi dalam suatu realita film sebagai satu dari sekian banyak kenyataan alam nyata yang menjadi bahan pemikiran manusia yang mengindikasikan kenyataan itu sendiri. Kenyataan adalah pikiran. Kehidupan adalah pergerakan. Pergerakan adalah kenyataan. Maka kenyataan adalah pergerakan pikiran manusia dalam kehidupan alam nyata pada diri setiap manusia.

Mari kita renungkan, mari kita peringati bersama bahwa ketenangan dalam suatu pergerakan dalam kehidupan yang diindikasikan oleh pikiran ketenangan itu sendiri bukanlah ketenangan itu sendiri. Karena, ketenangan selalu menuntut keridhoan dari tempat yang disemayaminya. Oleh karenanya, tempat bersemayam dan si penghuni memang butuh makanan dan butuh penghidupan sebagai suatu makhluk yang senantiasa butuh konsumsi sebagai bahan bakar untuk setiap pergerakan dalam kehidupan alam nyata, sehingga terciptalah ketenangan karena konsumsi yang dibutuhkan terpenuhi dengan sederhana dan senantiasa bersahaja dalam garis dan jalan istikomah.

Sehingga setiap makhluk ingin memiliki ketenangan itu sendiri namun mereka tak jarang terjerumus dalam rawa-rawa ketenangan materi yang berbau duniawi yang sesaat-saat bisa menelannya dan membunuhnya dari alam kehidupan sebagai suatu indikasi kenyataan akan adanya takdir, datang, pergi, bertemu, berpisah, hidup, mati, jodoh dan cerai hingga pikiran itu sendiri hancur dan mati bersama hilangnya kehidupan karena tertanam dalam rawa yang penuh bau tanah sebagai suatu asal mula kehidupan manusia.

Wahai kau sang pujangga kebesaran hati suatu cerminan kebijaksanaan. Senantiasa langgengkanlah ketenangan hati ini dalam kebesaran hati itu sendiri untuk selalu bersama-Nya, dari-Nya dan kembali kepada-Nya dalam khusnul khotimah.

Wahai kau makhluk yang mempedayakan hati, akankah kau merebut ketenangan itu yang ingin ku ciptakan namun belum selesai terbangun sudah kau hancurkan. Lalu, ketenangan macam apa yang ingin kau ciptakan sehingga kau merenggut dan merebut kemudian menghancurkan ketenangan itu yang ingin ku bangun dalam program hidup melewati scenario-Nya.

Apakah ini yang disebut banyak orang dengan nama cinta. Apakah mereka benar-benar mengetahui bahwa itu adalah cinta dan awal mula tumbuhnya cinta dalam hati yang dihuni oleh ketenangan pada aslinya.

Sehingga teman datang, mempersuntingnya lalu terjadilah dua kehendak yang belum tentu sama yang hidup dalam satu rumah. Ada kalanya ketenangan berkehendak ke timur, namun cinta berkehendak ke barat. Lalu apa sebenarnya mau mereka sehingga mampu merobohkan dan menghancurkan wadah kehidupan manusia. Kalau kembali pada fenomena dramatisasi kenyataan dalam scenario manusia, suatu kisah penghancuran raga badag kehidupan telah banyak mentamtsilkannya. Romeo dan Juliet yang menenggak racun. Kisah gantung diri dua sepasang anak adam karena cinta mereka tidak direstui oleh kedua orang tua sebagai media dan pintu gerbang kehidupan mereka. Ada lagi yang nekad berbuat dan melakukan dengan melewati pintu halal tanpa melewati pintu gerbang kehidupan mereka yang tanpa ijin dan restu orang tua dengan alasan orang tua mereka telah meninggal dunia.

Lalu sebenarnya apa yang dicari ketenangan dan apa yang dicari cinta sebagai suatu fenomena kehidupan yang berurat akar dan terus membahana dalam alam pikiran yang akhirnya terdefinisikan kehidupan.

Silahkan anda definisikan, renungkan lalu aplikasikan dalam kehidupan sesuatu dengan kontek anda masing-masing, karena bisa jadi dalam suatu kontek dimana anda berada akan muncul suatu definisi kehidupan sebagai suatu hasil perenungan, pemikiran, pengalaman yang pada akhirnya akan kembali pada definisi awal yang telah diketemukan sebelumnya.

Yang sangat perlu digaris bawahi, bahwa ketenangan, cinta, materi, kehidupan bukan semata-mata kenyataan kehidupan yang didefinisikan secara picik layaknya empat raja dalam Narnia kemudian berakhir pada pilihan hidup untuk menempati suatu ketenangan yang terkungkung dan terukur oleh tempat sehingga ketenangan itu datang dan hidup bersama mereka. Bukan! bukan yang itu!

Jauh lebih dalam dan lebar serta luas sehingga hati merasa lemah, pikiran merasa tidak mampu merasionalisasikannya dalam kehidupan. Bahwa tatkala ketenangan dan cinta itu datang, materi dan semua unsur kehidupan yang menjadi definisi mereka akan ketenangan itu diciptakan, hidup dan bersemayam, mereka tinggalkan tanpa mereka pedulikan.

Lebih gawatnya lagi, bahwa ketenangan itu tampak pada kediaman dan kesenyapan seseorang pada sesuatu dalam kondisi tertentu. Sesungguhnya ketenangan itu berada pada apa dan dimana tidak dipengaruhi oleh kondisi yang berperan dalam suatu keadaan tertentu. Antara ketenangan dan cinta, di satu pihak merupakan sesuatu yang saling bermusuhan namun disisi lain, antara ketenangan dan cinta selalu bersatu padu, bekerja sama dan bahu-membahu saling mewujud dalam hati setiap orang.

Ketika ketenangan datang, cinta pun meningkat dan semakin dalam menukik di sanubari. Sebaliknya ketika cinta itu datang, maka ketenangan akan terusir dan kegelisahan menghinggapinya sehingga dia menuntut ketenangan itu atas balasan cinta dari seorang yang dicintainya. Lalu terwujudlah ketenangan karena cinta telah terbalas. Lalu bagimana jika cinta tertolak? Silahkan pembaca kontekstualisasikan sendiri-sendiri seperti apa pengembangannya dengan pengetahuan masing-masing. Ini hanyalah sekelumit cerita tentang kondisi hati dan jiwa yang mengalami kegelisahan cinta karena perpisahan dengan kekasih, ingin mencari obat dengan mencari ketenangan, lalu menonton film KCB 2, eh ternyata malah menjadi kepiluan yang mendalam di dalam hati. Lalu ku lantunkan beberapa kalimat ini hingga terbentuk beberapa pengertian dari konteks yang telah terwujud melalui alam pikiran saya. Lalu konteks setiap pribadi orang melalui alam pikiran dan pengalaman pastilah berbeda, maka sangat beruntunglah bagi orang yang mampu menggunakan akal dengan cermat dan maksimal secara cerdas. Mari kita merenungkannya bersama sehingga mendapat solusi dari permasalahan-permasalahan yang mungkin sama namun dengan konteks yang berbeda. Mari…..