Khittah Cinta

“Mahabbah (cinta) adalah menghancurkan tutup penghaland an menyingkap rahasia-rahasia (Abu Husein al-Nuri).”

Percintaan sebagai wujud hubungan fungsional dan realisasi dari hablum min an-nas telah banyak diungkap dalam karya-karya dengan berbagai symbol dan perlakuan yang mengikis keimanan kita. Kondisi spiritual cinta “mahabbah” yang seharusnya tidak diobjekkan kepada makhluk, kini telah banyak orang yang menganalogikannya dengan karya-karya yang menyimpang dari jalur syariat dan meninggalkannya dalam keadaan yang menghinakan. Misalnya tentang penghambaan-penghambaan.

Manusia tercipta di dunia mempunyai dua posisi dan dua unsur, keduanya saling berperan dan memerankan diri sebagai wujud manusia terkalaim sebagai makhluk sempurna. Hal ini adalah bukti bahwa kekuasaan dan kemahabesaran Tuhan yang telah menciptakan manusia seutuhnya. Hal itu tidak terlepas dari proses berantai alur kehidupan yang selalu dan akan terus mengalir kembali kepada keesaan Tuhan dalam realisasi janji-Nya kepada manusia.

Kesempurnaan penciptaan manusia didasari oleh cinta, yaitu cinta yang tidak terukur kedahsyatannya. Namun, kesempurnaan itu pun sekarang dipertanyakan, seperti apakah kesempurnaan manusia yang dibekali dengan perasaan dan akal yang seharusnya digunkan untuk mengagungkan kebesaran tuhan dan untuk kemaslahatan umat. Apakah fasilitas-fasilitas tersebut telah digunakan semestinya? Telah tampak benar seperti hewan (hayawun nathiq) yang tersebar dan berkeliaran mencari mangsa dan tak pernah merasa puas, semakin penasaran dan terus mencari hal-hal yang baru.

Bagaimanapun kesucian cinta yang diungkapkan dengan berbagai katan dan ketekadan hati yang penuh dan mendalam tidak akan lepad dari yang namanya nafsu sebagai sifat dasar manusia. Mansia mempunyai rasa ingin tahu dan ingin terus menggali  potensi dari fasilitas-fasilias itu. Alangkah lebih baiknya jika kita gunakan rasa penasaran ini dalam hal-hal yang baik dan benar. Ketidakberdayaan manusia dalam mengungkapkan perasaannya kepada manusia lain atau kepada lain jenis akan tampak dalam berbagai tingkah lakunya yang condong untuk memperoleh balasan dari perasaan cintanya. Di lain pihak, cinta pulalah yang membangkitkan ketidakberdayaannya dan menjadi manusia super. Perasaan yang demikian akan hilang untuk sementara waktu karena suatu hal yang menyibukkan hatinya yang membuatnya jauh dan lupa pada perasaan awal yang dialaminya.

Selanjutnya, menyangkut masalah karya dan symbol dalam cinta, dapat digambarkan dengan konkrit adany. Pertama, yang menyangkut kausalitas antara inayah dan ciuman. Inayah adalah pertolongan dari Allah SWT kepada orang-orang yang mau sadar pada kesuciannya, sedang ciuman adalah pengingkaran dan kesombongan pada inyah karena merasa yakin hanya dengan kekuatan cintalah ia mampu mengatasi segala sesuatu di hadapan-Nya tanpa inayah.

Kedua, hidayah dan seks. Hidayah akan selalu berperan dalam rangka mengaktualisasikan cinta pada kekasihnya. Hanya dengan jalur halal-lah cinta akan menciptakan karya yang mulia dan terhormat. Lain halnya dengan seks yang dewasa ini telah disalahartikan dan disalahgunakan. Adanya free sex dan segala hal yang terkait dengan itu, merupakan simbolisasi karya cinta yang dilarang dan mendatangkan kemudharatan serta dapat merugikan bagi dirinya dan orang yang dicintainya. Dalam hal inilah hidayah berperang sebagai senjata pecinta-pecinta sejati untuk terus menjaga kesucian dan kehormatan cinta dan harga dirinya.

Semua itu merupakan sebuah simbolisasi dari cinta tercipta karya. Cinta yang dikenal sebagai gelombang yang merambat melalui mata kemudian turun ke hati kemudian menggetarkan jiwa merupakan inayah yang terimplementiasi melalui banyak mengingatnya dan terus menelusuri diri hingga tahu dan kenal pada dirinya. “Barang siapa mengenal dirinya,  maka dia akan mengenal Tuhannya,” namun terjadinya relasi yang dispositive antara cinta dengan ciuman merupakan penerapan yang salah dalam mengimplementasikan cinta.

Ibnu Qayim al-Jauziyah berpendapat bahwa cinta adalah kehidupan bagi hati dan nutrisi bagi ruh. Dengan cinta itulah, ruang transformatif hati mengalir di ruang intuitifnya, hati dapat merasakan kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan, dan kehidupan. Berbalik arah jika hati telah kehilangan cinta, maka ia tak akan dapat merasakan segala kelezatan, kenikmatan, dan kebahagiaan yang didambakan setiap orang. Hal ini dapat kita kita simak melalui kisah-kisah terdahulu yang mendiskripsikan betapa besar kekuatan cinta sehingga membuat orang yang dihinggapi rasa cinta akan rela berkoban demi cinta pada kekasihnya.

Seperti kisah Umru’ul Qays yang mencintai gadis di sebuah kampong. Ketika wanita itu mengetahui bahwa Umru’ul Qays mencintainya, ia segera pergi karena takut menjadi aib. Umru’ul Qays menjadi gila dan sakit karenanya. Orang-orang menaruh kasihan kepadanya karena cintanya pada sang kekasih. Setelah mendengar hal-ikhwal pada diri Umru’ul Qays, wanita itu luluh karena kepergiannya. Wanita itu datang dan mengetuk pintu. Apa yang kau rasakan wahai Umru’ul Qays? Umru’ul Qays menjawab:

“Ia mendekat, sedangkan bayangan kematian berada di antara aku dan dia, dia menemaniku ketika pertemuan tak lagi berarti, lalu ia pun mati.”

Dari kisah di atas dapat diambil hikmahnya. Oleh karena cinta, maka ada pertemuan dan perpisahan, karena cinta adalah pengorbanan. Oleh karena cinta, maka timbul kematian, dan cinta menuntut pengorbanan.

Dalam hal merespon datangnya cinta pada diri setiap insan, kehati-hatian dan kewaspadaan sangatlah perlu ditingkatkan guna menjaga kemurnian dan kesucian jiwa dan kemurnian cinta pada kekasihnya. Terkait dengan hubungan cinta dengan manusia lain, selanjutnya Ibnu Qayim mengatakan bahwa cinta dapat melatih jiwa dan membina akhlak. Oleh karenanya kita harus menjaga kehormatan kita, memperhatikan agama dan harga dirinya. Terlepas dari hal itu, beberapa faktor pengebab terjermusnya manusia ke jurang kenistaan selain condong kepada cinta materi dan lebih mengejar kesenangan dunia dari pada bersusah payah mengejar akhirat. Kenikmatan yang dirasa saat ini mungkin sangat berarti untuk keidupan yang dirasakan, namun kenikmatan itu akan lenyap tatkala kesadaran diri semakin tinggi dan perasaan percuma terhadap sesuatu yang dialami kian terasa. Itulah cinta yang menimbulkan efek negative dan dapat merugikan dirinya, dunia, akhirat serta agamanya.

Kesadaran diri yang tinggi bahwa kehidupan yang sarat dengan materi menuntut kita untuk berjuang lebih keras guna mendapatkan yagn lebih banyak akan semakin digiatkan dengan lebih condong kepada ketaatan yang mendorong manusia untuk taqarrab. Namun, perlu diketahui bahwa hal itu sangat berbahaya apabila tidak diimbangi dengna mengonsumsi makanan yang dibutuhkan ruh atau jiwa. Ketaatan dan taqarrab yang seharusnya kepada Allah SWT, bukan kepada makhluk, materi, dan sebagainya. Hal ini telah menyebabkan manusia-manusia stress akibat tidak menerima kenyataan yang menimpa dirinya. Mungkin di mabuk cinta pada kekasihnya karena cintanya tidak terbalas, tertimpa musibah kelaparan, kemiskinan, dan sebagainya yang membuat ia merasa teruji.

Bagaimana mengambil solusi agar hidup ini terasa indah dengan penghasilan yang sedikit, tetapi memuaskan dan menyenangkan dengan tidak banyak menuntut. Oleh sebab itu, manusia dianjurkan banyak bersyukur. Sistematisasi syukur itu dilaksanakan tergantung dengan orang yang akan menjalaninya dan sesuai dengan kemampuannya. Syukur merupakan konsumsi makananyang dibutuhkan oleh ruh kita.

Hubungan cinta yang menuntut kita pada pentingnya pengertian dan pemahaman satu sama lain yang membuat kita tahu dan paham siapa diri kita, kekasih kita dan orang-orang di sekeliling kita. Hubungan yang terjalin sebagai bukti konkrit percintaan menuntut kita untuk berbuat dan melanggar hukum Islam yang akan membuat kita semakin jauh dari agama. Oleh karena tidak lain dari jalur yang diridhai dan dicintai oleh Allah adalah meniti jalur agama. Percintaan itu bukanlah cinta yang sesungguhnya, seperti halnya pemahaman atau definisi yang diberikan para ulama sufi yang ditujukan kepada Sang Khalik dengan banyak mengingat dan meyebutnya di setiap langkah dan nafasnya “Barang siapa mencinti seseorang pasti ia banyak menyebutnya.”

Namun demikian, apa arti cinta jika menuntun kita kea rah yang membuat kita jauh dari agama Allah, membuat kita semakin angkuh dan tidak tahu sopan santun kepada orangtua, kawan-kawan, dan orang lain yang kita tuakan. Kecondongan pda perbuatkan menjerumuskan kita ke jurang kenistaan akan semakin dekat dengan apa yang dinamakan kenikmatan yang dikelilingi dengan kenistaan, kerusakan, dan kegelapan yang tidak disadari dan dipahami. Hanya kepada-Nya kita memohon pertolongan dan bergantung. Lalu dari mana kita akan mendapat pertolongan-Nya jika kita semakin jauh dari-Nya dan selalu berbuat maksiat dan pengingkaran terhadap semua perintah-perintah-Nya.

Perilaku yang didasari cinta sejati dan suci akan menuntun orang tersebut ke arah ketaatan yang selalu memberi kita peringatan atas perbuatan kita yang menjauh dari-Nya. Akan tetapi, bagaimana kita mewujudkan hal itu, sedangkan kita selalu menjauh dari-Nya dengan perbuatan kotor kita. Harapan yang ada hanyalah tinggal harapan yang kosong dan hampa yang tidak ada artinya.

Akhirnya “Islam adalah agama yang tinggi dan tidak ada melebihi ketinggiannya” (al-Hadis). Segala karya yang tercipta hanya tinggal dan karya dan cinta itu pergi bersama rumahnya (hati). Tinggi dan mulianya agama Islam dengan penciptaan cinta sebagai dasar terciptanya dunia ini akan tetap suci dan mulia serta tidak akan berubah dan bergeser satu derajat pun karena semua tingkah laku umatnya yang dinamis. Hina dan rendahnya cinta tidak dapat diindikasikan dengan rusahknya umat karena perilakunya yang kotor dan cela karena agama yang menaunginya adalah agama yang suci, tinggi dan mulia.

Daftar pustaka

Abu Atha’, Nazhmi Khalil, 2007, Menuntun Cinta Menuju Surga. Yogyakarta: HIkmah Pustaka.

As-Saraj, Abu Nashr. 2002. Al-Luma’: Rujukan Lengkap Ilmu Tasawuf. Surabaya: Risalah Gusti.

Naskah ini ikut diterbitkan dalam daftar penulis tamu buku The Spirit of Love hasil lomba esai tingkat nasional yang diselenggarakan oleh LPM OBSESI STAIN Purwokerto 2008.